Tinggalkan komentar

Resume Metlit


MENGAPA MEMPELAJARI PENELITIAN?

 

Metode penelitian memberikan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mengatasi masalah dan menghadapi tantangan lingkungan dalam pengambilan keputusan yang segera harus dilakukan.

 

Dua faktor yang mendorong perhatian dalam pengambilan keputusan ilmiah:

1.Kebutuhan manajer akan informasi yang lebih banyak dan lebih baik

2.Tersedianya teknik dan peralatan yang lebih baik untuk memnuhi kebutuhan ini.

 

Kebutuhan akan pengetahuan lainnya timbul dari masalah akibat merger, kebijakan-kebijakan perdagangan, pasar yang diproteksi, transfer teknologi, dan isu-isu makro ekonomi mengenai tabungan-investasi.

 

Kecenderungan akan kompleksitas telah meningkatkan risiko yang berhubungan dengan pengambilan keputusan bisnis,dan mempunyai basis informasi yang penting.Peningkatan kompleksitas berarti semakin banyak variabel yang harus diperhatikan.

 

PENTINGNYA MEMPEROLEH KETERAMPILAN DI BIDANG PENELITIAN:

  1. Manajer sering membutuhkan lebih banyak informasi sebelum mengambil keputusan
  2. Untuk memberi kesan baik kepada atasan
  3. Memiliki keterampilan penelitian, dapat menilai apa yang dikerjakan orang lain dan dapat menilai secara baik mutu pengambilan keputusan.
  4. Mendapat posisi sebagai seorang ahli dalam penelitian.

 

APA PENELITIAN ITU?

 

Penelitian (Research) berasal dari dua kata yaitu re (kembali) dan to search (mencari)— mencari kembali.

Penelitian merupakan penyelidikan sistematis yang ditujukan pada penyediaan informasi untuk  menyelesaikan persoalan-persoalan.

Penelitian bisnis (business research) merupakan penyelidikan sistematis yang memberi informasi untuk membantu pengambilan keputusan dalam bidang bisnis.

 

APA TUJUAN PENELITIAN?

  1. Penemuan: data yang diperoleh betul-betul baru belum pernah diketahui
  2. Pembuktian: data yang diperoleh digunakan untuk membuktikan keragu-raguan terhadap informasi
  3. Pengembangan: untuk memperdalam dan memperluas pengetahuan yang telah ada.

 

APAKAH PENELITIAN SELALU BERDASARKAN MASALAH ?

Jawabannya ya, semua penelitian harus memberi jawaban atas suatu pertanyaan.

 

  1. Penelitian terapan, dilaksanakan untuk mencari jawaban-jawaban atas pertanyaan yang berkaitan dengan tindakan, kinerja atau kebijakan.
  2. Penelitian murni atau penelitian dasar, penelitian yang bertujuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bersifat teoritis.

 

PENELITIAN ILMIAH

Penyelidikan yang sistematis, terkendali, empiris, dan kritis mengenai fenomena-fenomena alam yang dibimbing oleh teori dan hipotesis-hipotesis mengenai hubungan-hubungan yang diduga antara fenomena-fenomena tersebut.

 

Sistematis dan terkendali merujuk pada kadar mana pengamatan-pengamatan dikendalikan dan dijelaskan.

Empiris dan kritis merujuk kepada persyaratan-persyaratan bagi peneliti untuk menguji pendapat-pendapat subjektif terhadap realitas yang objektif dan hasilnya terbuka untuk penelitian dan pengujian lebih lanjut.

 

BAGAIMANA  PENELITIAN  YANG BAIK?

Penelitian yang baik memakai metode ilmiah.

Ciri-ciri dari metode ilmiah sebagai berikut:

  1. Maksud penelitian atau masalahnya, harus didefinisikan dengan jelas dan tajam dan tidak ambigu. Rumusan masalah harus mencakup analisis unsur-unsur yang paling sederhana,ruang lingkup dan batasan-batasannya, dan spesifikasi rinci dari arti  semua kata yang berarti dalam penelitian.
  2. Prosedur penelitian yang dipakai harus diuraikan secara cukup rinci. Laporan-laporan penelitian harus mengungkapkan dengan jujur sumber-sumber data dan bagaimana data tersebut diperoleh.

 

  1. Desain prosedur penelitian harus direncanakan dengan saksama untuk mendapatkan hasil yang seobjektif mungkin.Bilamana dilakukan pengambilan sampel dari populasi, laporan ini harus mencakup bukti-bukti mengenai sejauh mana sampel dapat mewakili populasi yang bersangkutan.telaah pustaka harus lengkap,hasil pengamatan harus dicatat sesegera mungkin, pengaruh bias pribadi diupayakan agar seminimal mungkin dalam pemilihan dan pencatatan data.

 

  1. Penelitian harus dilaporkan sejujurnya. Desain penelitian yang sempurna jarang ada. Seorang peneliti yang kompeten harus peka terhadap akibat-akibat dari desain yang kurang sempurna, dan pengalamannya dalam menganalisis data dapat memberi dasar untuk memperkirakan kekurangsempurnaan tsb.

 

  1. Analisis data harus cukup memadai untuk mengungkap arti pentingnya, dan metode analisis yang dipakai harus cocok.Bilamana memakai metode-metode statistik, probabilitas kesalahannya harus diduga dan kriteria signifikansi harus ditetapkan.

 

  1. Kesimpulan-kesimpulan harus dibatasi pada hal-hal yang akan ditunjang oleh data penelitian dan juga hal-hal yang mana data hasil penelitian dapat menjadi dasar yang cukup.

 

  1. Keyakinan akan hasil penelitian lebih besar jika penelitinya berpengalaman, mempunyai nama baik dalam bidang penelitian, dan mempunyai integritas.

 

 

ILMU DAN PROSES BERPIKIR

 

Ilmu adalah pengetahuan tentang fakta-fakta baik natura atau sosial yang berlaku umum dan sistematis. Atau ilmu adalah pengetahuan yang sudah terorganisir serta tersusun secara sistematis menurut kaidah umum.

 

Proses berpikir adalah suatu refleksi yang teratur dan hati-hati yang lahir dari rasa sangsi terhadap suatu hal untuk kemudian dipecahkan dalam suatu penyelidikan.

 

Konsep antara ilmu dan berpikir adalah sama dalam memecahkan masalah keduanya dimulai dari adanya rasa sangsi dan kebutuhan akan suatu hal yang bersifat umum

 

Berpikir ilmiah merupakan cara berpikir yang didasari oleh penalaran secara deduksi (deduktif) dan induksi (induktif).

 

Deduksi merupakan bentuk inferensi yang bertujuan menarik kesimpulan. Kesimpulan ini haruslah sebagai akibat dari alasan-alasan yang diajukan.

Deduksi dikatakan tepat, jika benar dan sahih, ini berarti bahwa premis (alasan) yang diberikan untuk kesimpulan harus sesuai dengan kenyataan (benar).

Suatu deduksi adalah sahih bilamana kesimpulan tidak mungkin salah jika premis adalah benar. Kesimpulan tidak dibenarkan secara logis jika:

1. Satu atau lebih premis tidak benar, atau

2. Bentuk argumentasi tidak sahih.

Contoh:

Premis 1 semua karyawan dapat dipercaya bahwa mereka tidak akan mencuri

Premis 2 Joko adalah seorang karyawan.

Premis 3 joko dapat dipercaya, ia tidak akan mencuri.

 

Jika kita yakin bahwa joko dapat dipercaya, maka kita berpendapat bahwa deduksi ini benar.Kesimpulan kita harus didasarkan kepada keyakinan Joko sebagai pribadi dan bukan didasarkan pada suatu premis umum bahwa semua karyawan jujur.

 

Induksi adalah menarik kesimpulan dari satu atau lebih fakta atau bukti-bukti. Kesimpulan menjelaskan fakta, dan faktanya mendukung kesimpulannya.

Contoh: anda menekan lampu kamar dan tidak menyala. Ini merupakan fakta lampunya tidak menyala ketika tombol untuk lampu ditekan. Maka, anda bertanya, “Mengapa lampu tidak menyala?”

Kemungkinan jawaban adalah kesimpulan bahwa bola lampunya putus.

Kesimpulan ini merupakan induksi karena dari pengalaman bahwa :

(1) Lampu harus menyala bilamana tombolnya ditekan dan,

(2)  Jika bola lampu putus, maka lampunya tidak menyala.

 

 

Sifat induksi bahwa kesimpulannya hanya merupakan suatu hipotesis. Induksi merupakan suatu penjelasan, tetapi ada penjelasan-penjelasan lain yang juga cocok dengan fakta-fakta.

 

Berpikir, seperti halnya dengan ilmu, juga merupakan proses untuk mencari kebenaran. Kebenaran yang diperoleh melalui penelitian terhadap fenomena yang fana adalah kebenaran yang telah ditemukan melalui proses ilmiah, karena penemuan tsb dilakukan secara ilmiah.

 

Kebenaran ilmiah dapat diterima karena adanya :

  1. Koheren, suatu pernyataan dianggap benar jika pernyataan tersebut koheren atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar.

 

  1. Koresponden, suatu pernyataan dianggap benar, jika materi pengetahuan yang terkandung dalam pernyataan tersebut berhubungan atau mempunyai korespondensi dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut.

 

  1. Sifat pragmatis, pernyataan dipercayai benar karena pernyataan tersebut mempunyai sifat fungsional dalam kehidupan praktis. Suatu pernyataan atau suatu kesimpulan dianggap benar jika pernyataan tersebut mempunyai sifat pragmatis dalam kehidupan sehari-hari.

 

Tidak selamanya penemuan kebenaran diperoleh secara ilmiah kadangkala kebenaran dapat ditemukan melalui proses nonilmiah, seperti:

  1. Penemuan kebenaran secara kebetulan
  2. Penemuan kebenaran secara common sense (akal sehat)
  3. Penemuan kebenaran melalui wahyu
  4. Penemuan kebenaran secara intuitif
  5. Penemuan kebenaran secara trial dan error
  6. Penemuan kebenaran melalui spekulasi
  7. Penemuan kebenaran karena kewibawaan.

 

Syarat penelitian ilmiah:

  1. Berdasarkan fakta
  2. Bebas dari prasangka (bias)
  3. Menerapkan prinsip analitis
  4. Menggunakan hipotesis
  5. Menggunakan ukuran yang objektif
  6. Menggunakan teknik kuantitatif

 

PROPOSISI

Pernyataan tentang sifat dari realita. Proposisi tersebut dapat diuji kebenarannya.

Dalam ilmu sosial, proposisi biasanya pernyataan antara dua atau lebih konsep.

Contoh:

– Tingkat modernisasi suami istri adalah salah satu faktor penentu perilaku kontrasepsi mereka.

– Penerimaan kontrasepsi modern dipengaruhi oleh persepsi tentang nilai ekonomis anak.

 

Proposisi dirumuskan dan sementara diterima untuk diuji kebenarannya disebut hipotesis atau hipotesis adalah suatu pernyataan sementara untuk diuji kebenarannya.

 

DALIL (scientific law)

Proposisi yang mempunyai jangkauan cukup luas dan telah didukung oleh data empiris

 

FAKTA

Adalah pengamatan yang telah diverifikasikan secara empiris.

Fakta dapat menjadi ilmu dapat juga tidak, jika fakta diperoleh secara random tidak akan menghasilkan ilmu, tetapi jika dikumpulkan secara sistematis dengan beberapa sistem serta pokok-pokok pengurutan fakta dapat menghasilkan ilmu.

Fakta tanpa teori tidak akan menghasilkan apa-apa.

 

TEORI adalah sarana pokok untuk menyatakan hubungan sistematik dalam gejala sosial maupun natura yang ingin diteliti.

 

Teori adalah alat dari ilmu (tool of science)

 

Teori sebagai alat dari ilmu mempunyai peranan:

  1. Teori mendefinisikan orientasi utama dari ilmu denga cara memberikan definisi terhadap jenis-jenis data yang akan dibuat.
  2. Teori memberikan rencana konseptual, dengan rencana mana fenomena-fenomena yang relevan disistematikan, diklasifikasikan dan dihubung-hubungkan,
  3. Teori memberi ringkasan terhadap fakta dalam bentuk genaralisasi empiris dan sistem generalisasi.
  4. Teori memberikan tepri terhadap fakta
  5. Teori memperjelas celah-celah di dalam pengetahuan kita.

 

Peranan fakta terhadap teori antara lain:

  1. Fakta menolong memprakarsai teori
  2. Fakta memberi jalan dalam mengubah atau memformulasikan teori baru
  3. Fakta dapat membuat penolakan terhadap teori
  4. Fakta menukar fokus dan orientasi dari teori
  5. Fakta memperterang dalam memberi definisi kembali terhadap teori.

 

Beberapa istilah penting kaitannya dengan ilmu:

  1. Konsep
  2. Konstruk
  3. Variabel
  4. Observasi
  5. Model
  6. Definisi

 

1.       Konsep merupakan abstraksi gagasan yang digeneralisasi berdasarkan fakta, atau konsep merupakan sejumlah pengertian atau ciri yang berkaitan dengan peristiwa, objek, kondisi, situasi, dan hal lain yang sejenis.

2.       Konstruk adalah bentuk khusus dari konsep yang menuangkan abstraksi lebih tinggi/tajam dan merujuk pada beberapa teori tertentu. Dalam penelitian ilmu-ilmu sosial sebuah konstruk (constructs) merupakan suatu bayangan atau pemikiran yang secara khusus diciptakan bagi suatu penelitian dan atau untuk tujuan membangun teori.

3.       Variabel adalah suatu konsep atau simbol sederhana yang dapat diasumsikan oleh seseorang atas suatu set tertentu yang mengandung nilai-nilai (value). Nilai angka yang diberikan kepada suatu variabel didasarkan pada ciri-ciri variabel tersebut.

4.       Observasi adalah upaya atau kegiatan mengumpulkan dan mencatat data yang faktual.

5.       Model adalah suatu pengungkapan yang berepresentatif tinggi dari kaitan-kaitan beberapa teori (theoritical network), biasanya didesain melalui simbol-simbol atau berdasarkan analogis secara fisik. Model dirumuskan sebagai cerminan suatu sistem yang dibuat untuk mempelajari salah satu aspek dari sistem atau dari sistem sebagai keseluruhan. Model berbeda dari teori dalam hal tugas teori adalah menjelaskan, sedangkan tugas model adalah mewakili.

6.       Definisi

a)       Definisi konstitutif adalah definisi yang mengacu pada konsep-konsep tertentu dari konstruk. Definisi dari suatu variabel dengan cara menghubung-hubungkan suatu konstrak dengan konstrak  yang lain.Contoh: Inteligensi adalah kemampuan berpikir abstrak. Dalam penelitian dibahas di dalam landasan teori.

b)       Definisi operasional adalah suatu definisi yang dinyatakan dalam kriteria atau operasi yang dapat diuji secara khusus.Definisi yang merupakan perincian mengenai kegiatan peneliti dalam mengukur atau mengatur variabel.

 

 

METODE PENELITIAN

 

Peneliti dapat memilih berjenis-jenis metode dalam melakukan penelitiannya. Metode yang dipilih berhubungan erat dengan prosedur, alat serta desain penelitian yang digunakan. Desain penelitian harus sesuai dengan metode penelitian yang dipilih. Prosedur serta alat yang digunakan dalam penelitian harus cocok dengan metode penelitian yang digunakan. Seorang peneliti sebelum melakukan penelitian perlu menjawab tiga buah pertanyaan pokok sbb:

-urutan kerja apakah yang harus dilakukan dalam melaksanakan penelitian?

-alat-alat apa yang digunakan dalam mengukur ataupun mengumpulkan data?

-bagaimana melaksanakan penelitian tersebut?

 

Prosedur           urutan-urutan pekerjaaan yang harus dilakukan dalam suatu penelitian.

Teknik penelitian          alat-alat pengukur apa yang diperlukan dalam melaksanakan penelitian.

Metode penelitian           memandu peneliti bagaimana urutan penelitian dilakukan.

 

Lima kelompok umum penelitian berdasarkan metode penelitian:

1.Metode Sejarah

Sejarah adalah pengetahuan yang tepat terhadap apa yang telah terjadi. Penelitian dengan metode sejarah adalah penyelidikan yang kritis terhadap keadaan-keadaan,perkembangan, serta pengalaman di masa lampau dan menimbang secara cukup teliti dan hati-hati bukti validitas dari sumber sejarah serta interpretasi dari sumber-sumber keterangan tersebut.

 

Tujuan penelitian dari metode sejarah adalah untuk membuat rekonstruksi masa lampau secara objektif dan sistematis dengan mengumpulkan,mengevaluasi serta menjelaskan dan mensintesiskan bukti-bukti untuk menegakan fakta dan menarik kesimpulan secara cepat.

 

2.Metode Deskripsi/survai

adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang.

 

Tujuannya untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta,serta sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.

 

Ciri-ciri metode deskriptif mencakup penelitian yang lebih luas di luar metode sejarah dan eksperimental, secara umum sering disebut metode survai. Peneliti, bukan saja memberikan gambaran terhadap fenomena-fenomena, tetapi juga menerangkan hubungan, menguji hipotesis, membuat prediksi serta mendapatkan makna dan implikasi dari suatu masalah yang ingin dipecahkan.

 

3.Metode Eksperimental

Eksperimen adalah observasi di bawah kondisi buatan (artificial condition), dimana kondisi tersebut dibuat dan diatur oleh sipeneliti. Penelitian eksperimental adalah penelitian yang dilakukan dengan mengadakan manipulasi terhadap objek penelitian serta adanya kontrol.Metode eksperimenal sering dilakukan dalam penelitian ilmu-ilmu eksakta.

 

Tujuan metode eksperimental adalah untuk menyelidiki ada-tidaknya hubungan sebab akibat serta berapa besar hubungan sebab akibat tersebut dengan cara memberikan perlakuan-perlakuan tertentu pada ebberapa kelompok eksperimental dan menyediakan kontrol untuk perbandingan.

 

4. Metode Grounded Research

Grounded Research adalah suatu metode penelitian yang mendasarkan diri kepada fakta dan menggunakan analisa perbandingan bertujuan untuk mengadakan generalisasi empiris, menetapkan konsep-konsep, membuktikan teori dan mengembangkan teori di mana pengumpulan data dan analisa data berjalan pada waktu yang bersamaan.

 

Tujuan dari grounded research untuk mengadakan generalisasi empiris, menetapkan konsep-konsep, membuktikan teori dan mengembangkan teori. Cirinya menonjolkan peranan data dalam penlitian. Data merupakan sumber dari teori dan sumber hipotesis.

 

5. Metode Penelitian tindakan

adalah suatu penelitian yang dikembnagkan bersama-sama antara penliti dan decision maker tentang variabel-variabel yang dapat digunakan untuk menentukan kebijakan dan pembangunan. Ciri utama dari penelitian tindakan adalah untuk emmeperoleh penemuan yang signifikan secara operasional sehingga dapat dilaksanakan ketika kebijakan dilaksanakan.

 

DESAIN PENELITIAN

Desain penelitian merupakan cetak biru bagi pengumpulan, pengukuran, dan penganalisaan data. Desain penelitian merupakan rencana dan struktur penyelidikan yang dibuat sedemikian rupa agar diperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan penelitian.Rencana merupakan program menyeluruh dari penelitian.

 

Desain penelitian merupakan:

  1. Rencana untuk memilih sumber-sumber dan jenis informasi yang dipakai untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian.
  2. Kerangka kerja untuk merinci hubungan-hubungan antar variabel dalam kajian tersebut
  3. Cetak biru yang memberi garis besar dari setiap prosedur mulai dari hipotesis sampai kepada analisis data.

 

Desain memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan, teknik apa yang akan dipakai untuk mengumpulkan data ? Cara penarikan sampel apa yang akan dipakai ? Bagaimana menghadapi kendala waktu dan biaya?

 

Desain dari penelitian adalah semua proses yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian.

 

Perencanaan penelitian:

  1. Identifikasi dan pemilihan masalah
  2. Pemilihan kerangka konseptual untuk masalah penelitian
  3. Memformulasikan masalah penelitian, termasuk membuat spesifikasi dari tujuan dan hipotesis untuk diuji
  4. Membangun atau mengadakan penyelidikan

 

Pelaksanaan Penelitian:

5.Memilih dan memberi definisi terhadap pengukuran variabel

6.Memilih prosedur dan teknik sampling

7.Menyusun alat serta teknik pengumpulan data

8.Membuat coding,editing dan prosesing data

9.Menganalisis data, pemilihan prosedur statistik untuk mengadakan generalisasi

10.Membuat laporan penelitian.

 

PERUMUSAN MASALAH

 

Masalah timbul karena adannya:

  1. Kesangsian atau kebingungan terhadap suatu hal atau fenomena
  2. Kemenduaan arti (ambiguity)
  3. Halangan dan rintangan
  4. Celah (gap) antar kegiatan atau fenomena

 

Perumusan masalah merupakan hulu dari penelitian dan merupakan langkah penting dan pekerjaan sulit dalam penelitian ilmiah.

 

Yang perlu diketahui dalam perumusan masalah:

  1. Expected condition. Hal yang utama dari expected condition adalah teori, karena tanpa teori akan kesulitan merumuskan masalah
  2. Selain teori juga perlu mengetahui dalil, hukum dan budaya
  3. harus mencari fakta awal yang disebut indikasi atau fenomena yaitu indikasi atau tanda-tanda tapi tidak semua tanda-tanda bisa diangkat menjadi masalah.Misalnya indikasi masalah karyawan tidak puas: hadir terlambat, pulang cepat, kurangnya komitmen.Indikasi masalah harus terjadi berulang-ulang apabila baru terjadi sekali belum dikategorikan indikasi masalah.

 

Gap yang dijadikan sebagai masalah (problem)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Expected condition

(general statement): Theory, dalil, law, culture

Problem

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

          Facts

 

Langkah-langkah dalam merumuskan masalah:

a)       Fenomena masalah (hubungan variabel)

b)       Menjelaskan implikasi masalah terhadap berbagai aspek yang dijelaskan kajian teori

c)       Pendekatan masalah (Grand Theory) yaitu teori pokok yang digunakan untuk memecahkan masalah

d)      Kegunaan umum (informative value) terkait dengan banyaknya manfaat untuk pemecahkan masalah praktis (practical problem solving) atau dalam pengembangan ilmu.

 

                                             Fenomena Masalah

(Hubungan variabel)

 

                                 

Implikasi Masalah Terhadap                   kajian Pustaka

Berbagai aspek

   PROBLEM

 

                                             Pendekatan Masalah

(Grand Theory)

 

Kegunaan Umum

(Informative Value)

 

 

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam perumusan masalah:

  1. Rumusan masalah harus terkait dengan kerangka pemikiran
  2. Harus menghindarkan diri dari pitfall (kekeliruan)         baru sekali terjadi sudah diangkat menjadi fenomena.
  3. Menghindarkan diri dari symtoms (seperti masalah tapi bukan masalah)
  4. Masalah harus dapat diidentifikasi (pokok masalah yang disebut tema sentral atau topik utama).
  5. Identifikasi masalah harus dirumuskan dalam pertanyaan yang diajukan untuk diperoleh jawabannya dari penelitian

 

Ciri-ciri masalah yang baik:

1.       Masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian

Mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan.

Masalah mempunyai nilai penelitian jika:

–          Masalah harus mempunyai keaslian

–          Masalah harus menyatakan suatu hubungan

–          Masalah harus merupakan hal yang penting

–          Masalah harus dapat diuji

–          Masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan

 

2.       Masalah yang dipilih harus mempunyai fisibilitas

masalah dapat dipecahkan, berarti:

-data dan metode untuk memecahkan masalah harus tersedia,biaya harus tersedia, waktu untuk memecahkan masalah harus wajar, biaya dan hasil harus seimbang, administrasi dan sponsor harus kuat, tidak bertentangan dengan hukum dan adat.

 

3.  Masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi peneliti

masalah penelitian yang dipilih :

– menarik bagi peneliti

– cocok dengan kualifikasi ilmiah peneliti

 

Sumber untuk memperoleh  masalah:

a)       Pengamatan terhadap kegiatan manusia

b)       Bacaan

c)       analisa bidang pengetahuan

d)      perluasan penelitian

e)       cabang studi yang sedang dikerjakan

f)        pengalaman dan catatan pribadi

g)       diskusi-diskusi ilmiah

h)      intuisi

 

CARA MERUMUSKAN MASALAH

  1. Masalah dirumuskan dalam bentuk pertanyaan
  2. Rumusan hendaklah jelas dan padat
  3. Rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah
  4. Rumusan masalah harus merupakan dasar dalam membuat hipotesis
  5. Masalah harus menjadi dasar judul penelitian.

 

 

BENTUK-BENTUK MASALAH PENELITIAN

Dikelompokkan:

1.       Permasalahan deskriptif adalah suatu permasalahan yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variabel mandiri,baik hanya pada satu variabel atau lebih.

Contoh:

1)       Bagaimanakah sikap masyarakat terhadap adanya impor gula tanpa dibebani bea masuk?

2)       Seberapa tinggi produktivitas kerja karyawan di PT Samudra?

 

2.       Permasalahan komparatif adalah suatu permasalahan penelitian yang bersifat membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda.

Contoh:

– Adakah perbedaan produktivitas kerja antara pegawai negeri, BUMN dan swasta?

– Adakah perbedaan promosi di perusahaan A dan B?

 

3. Permasalahan asosiatif adalah suatu pertanyaan penelitian yang bersifat hubungan antara dua varisbel atau lebih.Terdapat tiga bentuk hubungan, yaitu:

a. Hubungan Simetris adalah hubungan antara dua atau lebih variabel yang kebetulan munculnya bersama.

Contoh :

adakah hubungan antara banyaknya semut di pohon dengan tingkat manisnya buah?

 

b. Hubungan kausal adalah hubungan yang bersifat sebab akibat. Disini ada variabel independen (variabel yang mempengaruhi) dan dependen (dipengaruhi), contoh: Adakah pengaruh sistem penggajian terhadap prestasi kerja?

Contoh Judul:

Pengaruh insentif terhadap disiplin kerja karyawan di perusahaan X

 

c. Hubungan Interaktif/resiprocal/timbal balik adalah hubungan yang saling mempengaruhi.

Contoh:

Hubungan antara motivasi dan prestasi. Motivasi mempenagruhi prestasi dan juga prestasi mempengaruhi motivasi.

 

KERANGKA BERPIKIR/PEMIKIRAN

Menurut Uma Sekaran: merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting.

 

Kerangka berpikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antar variabel yang akan diteliti. Pertautan antar variabel selanjutnya dirumuskan dalam bentuk paradigma penelitian

 

Kriteria utama agar suatu kerangka pemikiran bisa meyakinkan adalah alur-alur pikiran yang logis dalam membangun suatu kerangka berfikir yang membuahkan kesimpulan yang berupa hipotesis.

 

PROSES MENDAPATKAN ILMU

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MEMILIH VARIABEL DAN PENGUKURANNYA

 

Setelah masalah penelitian dirumuskan dan studi kepustakaan dilakukan, maka saatnya bagi  peneliti untuk merumuskan hipotesis. Hipotesis harus berkaitan dengan masalah yang ingin dipecahkan.Peneliti juga harus menentukan variabel-variabel mana yang akan digunakan dalam pengujian hipotesis.

 

Variabel-variabel yang digunakan perlu ditetapkan, diidentifikasi dan  diklasifikasikan. Jumlah variabel yang digunakan bergantung dari luas serta sempitnya penelitian yang akan dilakukan.

 

Variabel adalah konsep yang mempunyai bermacam-macam nilai. Nilai angka yang diberikan kepada suatu variabel didasarkan pada ciri-ciri variabel tersebut. Umumnya variabel dibagi atas dua jenis yaitu :

 

1.       Variabel kontinu (continous variable) adalah variabel yang dapat kita tentukan nilainya dalam jarak (interval) tertentu dengan desimal yang tidak terbatas. Contoh:penghasilan, suhu udara, usia,dan skor tes.

2.       Variabel diskrit (descrete variable) adalah konsep nilainya tidak dapat dinyatakan dalam bentuk pecahan atau desimal di belakang koma.Variabel ini mempunyai nilai yang mencerminkan kategori-kategori karena hanya bisa memiliki nilai-nilai tertentu saja.

Jika mempunyai dua kategori saja dinamakan variabel dikotomis, hanya mempunyai dua nilai yang mencerminkan ada atau tidak adanya suatu ciri tertentu., misalnya: bekerja atau menganggur, pria atau wanita hanya mempunyai dua nilai, biasanya 0 dan 1. Jika lebih dari dua kategori disebut variabel politom, misalnya tingkat pendidikan: SD,SMP, SMU, Perguruan Tinggi dsb.

 

3.       Variabel dependen (variabel yang tergantung atas variabel lain) dan variabel bebas (variabel yang dapat mempengaruhi perubahan dalam variabel dependen), peneliti berkepentingan dengan hubungan-hubungan antar variabel. Terdapat hubungan antara dua variabel, misalnya hubungan antara gaya kepemimpinan dengan kepuasan bekerja..

 

4.       Variabel Moderator, Jika ada variabel lain yang dianggap berpengaruh terhadap variabel dependen, tetapi dianggap tidak mempunyai pengaruh utama.

 

5.       Variabel Antara (intervening Variable), adalah faktor yang secara teori berpengaruh pada fenomena yang diamati tetapi tidak dapat dilihat, diukur, atau dimanipulasi, namun dampaknya dapat disimpulkan berdasarkan dampak variabel-variabel independen dan moderator terhadap fenomena yang diamati. Intervening variable ini membantu kita dalam menjelaskan bagaimana mengkonsepsi hubungan antara variabel independen dan variabel dependen.

 

6.       Variabel aktif, variabel yang dimanipulasikan oleh peneliti . Misalnya seorang peneliti memanipulasikan  metode mengajar, cara menghukum mahasiswa.

 

7.        Variabel Atribut, Variabel yang tidak bisa atau sukar dimanipulasikan karena pada umumnya merupakan karakteristik manusia, seperti: intelegensia, jenis kelamin, pendidikan, sikap dsb.

 

Masalah yang sering muncul adalah bagaimana menggolongkan sebuah variabel menjadi variabel independen, moderator atau variabel intervening.Melalui contoh efektivitas organisasi yang disederhanakan bisa dilihat hubungan antara Independen, Intervening, Moderating, dan dependen sebagai berikut:

 

 

Waktu:   t1                                          t2                                             t3

 

 

 

 

 

Variabel Independen                              Intervening variable                       Variabel Dependen

 

 

 

 

 

 

Moderating Variable

 

Secara umum teori menjelaskan bahwa keragaman para karyawan (individu dengan etnis,ras, dan kebangsaan yang berbeda) memberikan kontribusi lebih terhadap efektivitas organisasi karena setiap kelompok membawa keahlian dan keterampilan masing-masing ke tempat kerjanya.

 

Sinergi dapat diperoleh jika manajer mengetahui bagaimana memanfaatkan bakat-bakat khusus tersebut.Efektivitas organisasi merupakan variabel dependen, yang secara positif dipengaruhi oleh keragaman pekerja yang merupakan variabel independen. Untuk memanfaatkan sinergi yang ada, manajer harus memahami bagaimana mendorong dan mengkoordinasi bakat yang dimiliki berbagai kelompok pekerja agar pekerjaan dapat berjalan lancar. Jika tidak, maka sinergi yang diharapkan tidak akan diperoleh. Keahlian manajerial untuk memanfaatkan bakat yang berbeda tersebut kemudian menjadi moderating variable.

 

Intervening variable muncul sebagai fungsi dari keragaman pekerja adalah sinergi kreatif yang berasal dari interaktif multietnis, multiras, dan multinasional para pekerja yang dibawa ke tempat kerja, bersama dengan segi-segi keahlian mereka dalam memecahkan masalah.

 

Dari gambar terlihat bahwa keahlian manajerial menjembatani antara keragaman pekerja dan sinergi kreatif. Dengan kata lain, sinergi kreatif tidak akan muncul dari segi-segi keterampilan pemecahan masalah yang dimiliki pekerja yang berbeda, kecuali manajer mampu memanfaatkan sinergi melalui pengkoordinasian keterampilan yang berbeda secara kreatif. Jika manajer tidak memiliki keterampilan tersebut, maka sinergi tidak akan muncul.

 

Variabel independen membantu menjelaskan varian dalam variabel dependen, intervening variable muncul pada t2 sebagai fungsi dari variabel independen, yang juga membantu dalam mengkonsepsikan hubungan antara variabel dependen dan variabel independen. Moderating variable memiliki contingent effect pada hubungan antar variabel. Ketika variabel independen menjelaskan varian pada variabel dependen, intervening varible tidak ditambahkan pada varian yang telah dijelaskan oleh variabel independen, sedangkan moderating variable memiliki efek timbal balik dengan variabel independen dalam menjelaskan varian.Oleh karena itu, jika tidak ada moderating variable maka hubungan antara variabel independen dengan intervening variable tidak ada.

 

Penggolongnan variabel harus hati-hati tergantung situasi yang ada dan model teoritis yang dikembangkan.

 

PENGUKURAN

Adalah penetapan/pemberian angka terhadap objek atau fenomena menurut aturan tertentu. Dari pengertian tersebut menyatakan bahwa pengukuran merupakan proses yang terdiri dari tiga bagian:

1).memilih peristiwa empiris yang dapat diamati,

2)memakai angka atau simbol untuk mewakili aspek-aspek peristiwa tersebut dan, 3)menerapkan aturan pemetaan untuk menghubungkan pengamatan kepada simbol.

Secara umum terdapat empat jenis ukuran yaitu:

1.Nominal

adalah ukuran yang paling sederhana, dimana angka yang diberikan kepada objek mempunyai arti sebagai label saja, dan tidak menunjukkan tingkatan apa-apa.

misalnya untuk mengukur jenis kelamin, objek dibagi atas dua set yaitu laki-laki dan perempuan. Kemudian untuk masing-masing anggota diberikan angka 1. laki-laki dan 2. perempuan. Angtka yang diberikan tidak menunjukkan bahwa permpuan lebih tinggi dari laki-laki.

 

2.Ordinal

adalah angka yang diberikan mengandung pengertian tingkatan. Ukuran ini tidak memberikan nilai absolut terhadap objek, tetapi hanya memberikan urutan (ranking ) saja.Misalnya ranking yang diberikan dalam suatu perlombaan, ranking prestasi mahasiswa dls.

 

3.Interval

adalah suatu pemberian angka kepada set dari objek yang mempunyai sifat-sifat ukuran ordinal dan ditambah jarak yang sama dari ciri atau sifat objek yang diukur.Ukuran interval tidak memberikan jumlah absolut dari objek yang diukur.

 

4.Rasio

adalah ukuran yang mencakup semua ukuran di atas ditambah dengan ukuran ini memberikan keterangan tentang nilai absolut dari objek yang diukur. Ukuran rasio mempunyai titik nol, dapat dibuat perkalian ataupun pembagian.Angka  menunjukkan nilai sebenarnya dari objek yang diukur.

Misalnya jumlah anak yang hilang, tingkat pengangguran dls.

 

CIRI-CIRI PENGUKURAN YANG BAIK

Alat yang digunakan harus merupakan indikator yang tepat mengenai apa yang menjadi kepentingan untuk diukur, alat yang digunakan harus mudah dan efisien untuk dipakai.

Tiga kriteria utama untuk menilai suatu alat pengukur, yaitu validitas, keandalan (reliability), dan kepraktisan.

 

Validitas merujuk kepada sejauh mana suatu uji dapat mengukur apa yang sebenarnya ingin diukur.

Keandalan berkaitan dengan ketepatan dari prosedur pengukuran.

Kepraktisan berkaitan dengan serangkaian faktor hemat, kemudahan, dan dapat dimengerti.

 

 

 

RINGKASAN ESTIMASI VALIDITAS

 

Jenis

Apa yang diukur ?

Metode

Isi Sejauh mana isi dari setiap butir-butir mewakili secara memadai populasi dari

semua unsur penelitian yang relevan

Evaluasi penilaian atau panel dengan rasio validitas isi
Berkaitan dengan kriteria Sejauh mana alat prediksi secara memadai mencakup aspek-aspek kriteria yang relevan Korelasi
bersamaan Menggambarkan keadaan sekarang;data mengenai kriteria tersedia bersamaan dengan skor alat prediksi  
prediktif Prediksi mengenai keadaan yang akan datang: kriteria diukur setelah suatu periode waktu tertentu  
Konstruk Menjawab pertanyaan:

Apa yang mempengaruhi varians dalam pengukuran? Berusaha untuk mengidentifikasi kostruk-konstruk yang diukur dan menentukan sejauh mana tes yang bersangkutan mewaili konstruk-konstruk tersebut.

Bersifat penilaian

Korelasi tes yang diusulkan dengan tes yang ada

Teknik-teknik diskriminan-konvergen

Analisis faktor

Analisis multi metode-multi ciri

 

RINGKASAN ESTIMASI KEANDALAN

 

Jenis

Koefisien

Apa yang diukur?

Metode

Tes dan tes ulang stabilitas Keandalan suatu tes atau instrumen yang disimpulkan dari skor-skor hasil tes. Tes yang sama dilaksanakan dua kali terhadap subjek yang sama dalam interval waktu kurang dari enam bulan. Korelasi
Bentuk paralel kesamaan Tingkat sejauh mana bentuk-bentuk alternatif dari pengukuran yang sama menghasilkan hasil-hasil yang sama atau serupa. Dilaksanakan secara serentak atau dengan tenggang waktu. Estimasi antar penilai mengenai kesamaan observasi atau skor para penilai. Korelasi
Konsistensi internal Bagi dua KR20 Cronbachis alpha Sejauh mana butir-butir instrumen adalah homogen dan mencerminkan konstruk-konstruk yang sama. Rumus-rumus korelasi khusus

PARADIGMA PENELITIAN

Dalam penelitian kuantitatif yang dilandasi pada suatu asumsi bahwa suatu gejala itu dapat diklasifikasikan, dan hubungan gejala bersifat kausal (sebab akibat), maka peneliti dapat melakukan penelitian dengan memfokuskan kepada beberapa variabel saja. Pola hubungan antara variabel yang akan diteliti disebut paradigma penelitian.

 

Paradigma penelitian merupakan pola pikir yang menunjukkan hubungan antara variabel yang akan diteliti,sekaligus mencerminkan jenis dan jumlah rumusan masalah yang perlu dijawab melalui penelitian, teori yang digunakan untuk merumuskan hipotesis, dan teknik analisis statistik yang kan digunakan.

 

Bentuk-bentuk paradigma atau model penelitian kuantitatif:

1.       Paradigma sederhana

Paradigma penelitian ini terdiri atas satu variabel independen dan dependen, digambarkan:

 

 

 

 

X= kualitas iklan;        Y= jumlah barang yang terjual

 

a.  Jumlah rumusan  masalah deskriptif ada dua, dan asosiatif ada satu:

1) Rumusan masalah deskriptif:

a)       Bagaimana kualitas iklan (X)

b)       Bagaimana barang yang terjual (Y)

 

3)       Rumusan masalah asosiatif/hubungan

4)       Bagaimanakah hubungan antara kualitas iklan dengan jumlah barang yang terjual.

 

b. Teori yang digunakan ada dua, yaitu teori tentang iklan dan penjualan.

 

c.  Hipotesis yang dirumuskan yaitu hipotesis asosiatif:

Ada hubungan yang positif antara kualitas iklan dengan jumlah barang yang terjual atau, bila kualitas iklan ditingkatkan, maka akan menaikan penjualan.

 

d. Teknik analisis data

Berdasarkan rumusan masalah dan hipotesis, maka dapat ditentukan teknik statistik yang digunakan untuk analisis data dan menguji hipotesis.

Bila data kedua variabel berbentuk interval atau rasio, maka menggunakan teknik statistik korelasi product moment.

 

2.       Paradigma sederhana berurutan

Dalam paradigma ini terdapat lebih dari dua variabel, tetapi hubungannya masih sederhana.Misal:

X1 = kualitas bahan baku

X2= Kualitas pengerjaan

X3= kualitas barang yang dihasilkan

Y  = Kepuasan pembeli

 

Paradigma sederhana, menunjukkan hubungan antara satu variabel independen dengan satu variabel dependen secara berurutan. Untuk mencari hubungan antar variabel tersebut digunakan teknik korelasi sederhana. Naik turunnya harga y dapat diprediksi melalui persamaan regresi Y.

 

3.       Paradigma ganda dengan dua variabel independen

paradigma ganda dengan dua variabel independen X1 dan X2, dan satu variabel dependen Y, untuk mencari hubungan X1 dengan Y dan X2 dengan Y, menggunakan teknik korelasi sederhana. Untuk mencari hubungan X1 dengan X2 secara bersama-sama terhadap Y menggunakan korelasi ganda.

 

4.       Paradigma ganda dengan tiga variabel independen

Paradigma ganda dengan tiga variabel independen yaitu X1, X2, dan X3. Untuk mencari hubungan X1 secara bersama-sama dengan X2, dan X3 terhadap Y dilakukan korelasi ganda. Regresi sederhana dan ganda serta korelasi parsial dapat diterapkan dalam paradigma ini.

 

5.       Paradigma ganda dengan dua variabel dependen

Paradigma ganda satu variabel independen dan dua dependen.

Contoh: X=tingkat pendidikan bisnis   Y1= wawasan

Y2= keberhasilan

 

6.       Paradigma ganda dengan dua variabel independen dan dua dependen

dalam paradigma ini terdapat dua variabel independen (X1, X2) dan dua variabel dependen (Y1, danY2).

Contoh: X1=kebersihan kereta                 Y1= jumlah tiket yang terjual

X2=pelayanan KA                       Y2= kepuasan penumpang KA

 

7.       Paradigma jalur

 

 

 

 

 

 

 

X1= status sosial ekonomi, X2= IQ, X3= motivasi berprestasi, = motivasi berprestasi,

Y= prestasi belajar (achievement)

 

Paradigma penelitian ini dinamakan paradigma jalur karena terdapat variabel yang berfungsi sebagai jalur antara (X3).

 

 

MERUMUSKAN HIPOTESIS

Perumusan hipotesis merupakan langkah dalam penelitian setelah peneliti mengemukakan landasan teori dan kerangka berpikir. Peranan hipotesis dalam penelitian mempunyai fungsi yang penting adalah sebagai pedoman untuk mengarahkan penelitian. Masalah yang timbul karena dalam penelitian banyaknya informasi yang menarik.

Bagaimana hipotesis yang baik?

 

Hipotesis yang baik harus memenuhi syarat:

1.Hipotesis harus sesuai dengan tujuannya, hipotesis secara jelas menyatakan, kondisi, ukuran, atau distribusi suatu variabel yang dinyatakan dalam nilai-nilai yang mempunyai makna bagi pekerjaan penelitian.

 

2.Hipotesis harus dapat diuji. Hipotesis tidak dapat diuji jika memerlukan teknik-teknik yang tidak tersedia dan memerlukan penjelasan yang melawan hukum-hukum atau psikologi yang ada.

 

Secara umum, hipotesis yang baik adalah lebih luas, menjelaskan labih banyak fakta dan lebih beragam dengan hipotesis lainnya. Hipotesis yang lebih baik adalah yang diterima para penilai sebagai hipotesis yang paling mungkin.

 

HIPOTESIS PENELITIAN

Penelitian dilakukan pada seluruh populasi

 

HIPOTESIS

 

 

HIPOTESIS STATISTIK

Bila penelitian menggunakan sampel

 

 

 

HIPOTESIS DESKRIPTIF

Jawaban sementara terhadap rumusan

masalah deskriptif

 

 

BENTUK-BENTUK HIPOTESIS                      HIPOTESIS KOMPARATIF

Dilihat dari tingkat eksplanasinya                       Jawaban sementara terhadap rumusan

masalah komparatif

 

HIPOTESIS ASOSIATIF

Jawaban sementara terhadap rumusan

masalah asosiatif, yang menyatakan

hubungan antara dua variabel atau

lebih.

 

Contoh:

1.Rumusan masalah deskriptif

2.Rumusan masalah komparatif

Bagaimanakah produktivitas kerja karyawan PT X bila dibandingkan dengan PT Y?

Hipotesisnya:

Hipotesis Nol (Ho): Produktivitas kerja antara karyawan di PT X lebih besar dari

karyawan PT Y

Hipotesis alternatif: Produktivitas karyawan PT X Lebih kecil dari pada PT Y

SKALA PENGUKURAN

 

Merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga bisa digunakan dalam pengukuran yang menghasilkan data kuantitatif.

 

Contoh: timbangan emas sebagai instrumen untuk mengukur berat emas dengan skala mg, meteran sebagai instrumen untuk mengukur panjang.

 

Dengan skala pengukuran, variabel yang diukur dengan instrumen tertentu dapat dinyatakan dalam bentuk angka, sehingga akan lebih akurat, efisien dan komunikatif.

Misal: berat emas 15 gram, berat besi 100 kg, suhu badan yang sehat 370 , IQ seseorang 150.

 

Pada dasarnya skala pengukuran dapat digunakan pada berbagai bidang, perbedaannya terletak pada isi dan penekanannya. Ahli sosiologi lebih menekankan pada pengembangan instrumen untuk mengukur perilaku manusia, tetapi baik ahli sosiologi maupun psikologi, keduanya sama-sama menekankan pada pengukuran sikap.

 

Skala yang digunakan dalam penelitian bisnis:

1.       Skala Likert

Digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau kelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam skala likert, variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan titik tolak untuk menyususn item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan.

 

Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan skala likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang berupa kata-kata diberi skor antara lain:

1).Sangat setuju/sangat positif diberi skor  5

2).Setuju/positif  diberi skor                        4

3).Ragu-ragu/netral diberi skor                   3

4).Tidak setuju/negatif diberi skor               2

5).Sangat tidak setuju/sangat negatif  diberi skor 1

 

2.       Skala Guttman

Penelitian menggunakan skala Guttman dilakukan bila ingin mendapatkan jawaban tegas terhadap permasalahan yang ditanyakan Contoh: ya-tidak, benar-salah, positif-negatif dll. Data yang diperoleh dapat berupa data interval atau rasio.

Skala Guttman dapat dibuat pertanyaan dalam bentuk pilihan ganda, juga dapat dibuat bentuk checklist. Jawaban dapat dibuat skor tertinggi satu dan terendah nol.

Contoh: Pernahkah pimpinan melakukan pemeriksaan  di ruang kerja anda?

a.       Tidak pernah   b. Pernah

 

3.       Semantic Deferential

Skala ini dikembangkan oleh Osgood, digunakan untuk mengukur sikap, hanya bentuknya tersusun dalam satu garis kontinum yang jawabanya sangat positif terletak dibagian garis kanan, jawaban yang sangat negatif di bagian kiri atau sebaliknya.

Rentang jawaban dari yang positif sampai dengan negatif tergantung persepsi responden kepada yang dinilai.

 

4.       Rating Scale

 

Data yang diperoleh data mentah berupa angka yang kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif. Dalam skala ini responden tidak menjawab salah satu dari jawaban kualitatif yang disediakan, tetapi salah satu jawaban kuantitatif yang tersedia. Rating scale tidak terbatas untuk pengukuran sikap saja tetapi untuk mengukur persepsi responden terhadap fenomena lainnya seperti status sosial ekonomi, kelembagaan, pengetahuan dls.

Bagi penyusun instrumen dengan rating scale penting dapat mengartikan setiap angka yang diberikan pada alternatif jawaban pada setiap item instrumen.

 

 

 

TEKNIK PENARIKAN SAMPEL

 

Dasar dari pengambilan sampel (sampling) adalah bahwa dengan menyeleksi bagian dari elemen-elemen populasi, dapat diperoleh kesimpulan tentang populasi.

–          Populasi adalah keseluruhan objek psikologis yang dibatasi oleh kriteria tertentu

–          Populasi adalah seluruh kumpulan elemen yang dapat kita gunakan untuk membuat beberapa kesimpulan

–          Populasi adalah kumpulan dari individu dengan kualitas serta ciri-ciri yang telah ditetapkan

–          Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan.

 

Objek psikologis:

–          Objek yang bisa diraba/kongkrit (tangible)

–          Objek abstrak (untangible)

 

Banyaknya objek psikologis dalam populasi disebut ukuran populasi (population size/ N):

1.Bisa dihitung (countable): populasi terhingga (Finite Population)

2.Tidak terhitung (uncountable): populasi tak hingga (Infinite Population)

 

Keterangan populasi dapat dikumpulkan dengan dua cara:

1.Sensus (complete enumeration): tiap unit populasi dihitung/ setiap objek dalam populasi diperiksa.

2.Survei sampel (sample survey  atau sample enumeration): wakil populasi atau sampel.

 

SATUAN SAMPLING

Proses memilih objek-objek psikologis dari sebuah populasi tertentu disebut sampling.

 

Segala sesuatu yang oleh peneliti dijadikan kesatuan (unit) yang akan menjadi objek pemilihan disebut satuan sampling. Satuan sampling bentuknya bisa individu yang berdiri sendiri, dan bisa kumpulan individu.

Contoh: -Indonesia terbagi ke dalam 29 satuan yang disebut Provinsi, dalam penelitian Provinsi yang akan dipilih, maka Provinsi menjadi satuan sampling.

-Apabila Indonesia dibagi ke dalam Kabupaten dan Kotamadya, dalam penelitian Kabupaten dan Kotamadya akan menjadi objek pemilihan, maka Kabupaten dan Kotamadya adalah satuan sampling.

 

KERANGKA SAMPLING (SAMPLING FRAME)

Apabila dari sebuah populasi tertentu telah ditentukan secara tegas satuan-satuan samplingnya dan satuan-satuan sampling ini didaftar, maka daftar satuan sampling yang ada dalam sebuah populasi disebut kerangka sampling.

Contoh: Kotamadya bandung terdiri dari Kecamatan-kecamatan, dan kecamatan tersebut didaftar, maka kecamatan-kecamatan sebagai kerangka sampling.

 

SAMPEL

Adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut, yang dipelajari dari sampel, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif (mewakili).

 

TEKNIK SAMPLING

Adalah teknik penarikan sampel. Untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian, terdapat berbagai teknik sampling yang digunakan:

1.Probability sampling: teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur/anggota populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel.

2.Nonprobability sampling: teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Probability sampling

1.Simple Random Sampling

Pengambilan  sampel anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi. Cara ini dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen.

 

2.Proportionate stratified random sampling

Teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional.Contoh: suatu organisasi yang mempunyai pegawai dari latar belakang pendidikan yang berstrata, maka populasi pegawai itu berstrata.

 

3. Disproportionate stratified random sampling

Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel, bila populasi berstrata tetapi kurang proporsional.

 

4. Area(cluster) sampling

Teknik sampling ini digunakan untuk menentukan sampel bila obyek yang akan diteliti atau sumber data sangant luas, misalnya penduduk dari suatu negara, propinsi atau kabupaten. Untuk menentukan penduduk mana yang akan dijadikan sumber data, maka pengambilan sampelnya berdasarkan daerah populasi yang telah ditetapkan.

 

Non probability sampling

1.Sampling sistematis

Teknik pengambilan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut.

 

2.Sampling  kuota

Teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan. Contoh, penelitian tentang pendapat masyarakat terhadap rasa suatu produk tertentu.

 

3.Sampling aksidental.

Teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang tsb cocok sebagai sumber data.

 

4.Purposive sampling

Teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.Misal penelitian tentang kualitas makanan.

 

5.Sampling jenuh

Teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel.

 

6.Snowball sampling

Teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian membesar.

ANGKET (KUESIONER)

Angket merupakan terjemahan dari istilah Inggris “questionnaire”. Angket berfungsi sebagai alat dan teknik pengumpulan data.

 

Ciri khas angket terletak pada: pengumpulan data melalui  daftar pertanyaan tertulis yang disusun dan disebarkan untuk mendapatkan informasi atau keterangan dari sumber data (responden).

 

Ciri khas penelitian yang menggunakan  angket sebagai alat dan teknik pengumpulan data:

  1. Berkepentingan dengan sumber data yang serupa orang/responden,
  2. Perlu menyusun daftar pertanyaan tertulis sesuai dengan informasi atau keterangan yang diperlukan dari responden,
  3. Perlu menyebarkan angket dan menghimpunnya kembali setelah diisi oleh para responden.
  4. Sisi alat dari angket terletak pada bentuk konkritnya yang berupa daftar pertanyaan beserta petunjuk pengisiannya, sedangkan sisi teknik dari angket terletak pada penggunaannya sebagai suatu cara yang khas dalam mengumpulkan atau mendapatkan data.

 

JENIS-JENIS ANGKET

Klasifikasi didasarkan pada keleluasaan responden mengajukan dan memformulasikan jawaban-jawabannya:

  1. Angket Tertutup: bila item pertanyaan pada angket juga disertai kemungkinan jawabannya, sehingga responden tinggal memilih jawaban yang dinilainya paling sesuai..
  2. Angket Terbuka: item pertanyaan tanpa disediakan kemungkinan jawaban, sehingga responden harus memformulasikan sendiri isian jawaban yang dipandangnya sesuai.

 

Klasifikasi angket didasarkan pada kaitan responden dengan jawaban yang diberikan, dibagi menjadi:

1.       Angket Langsung bila item pertanyaannya bermaksud menggali atau merekam informasi mengenai diri respomden itu sendiri.

  1. Angket tak langsung, bila item pertanyaannya bermaksud menggali atau merekam informasi apa yang diketahui responden  mengenai objek atau subjek tertentu, dan informasi dimaksud tidak berbicara langsung mengenai diri responden bersangkutan.

 

Dilihat bentuk konstruksi item pertanyaannya, angket tertutup terbagi menjadi:

  1. bentuk ya-tidak
  2. bentuk pilihan berganda
  3. bentuk skala penilaian, dan
  4. bentuk daftar cek

Sedangkan angket terbuka terbagi menjadi:

  1. pengisian jawaban singkat, dan
  2. pengisian jawaban terurai.

 

Angket sebagai teknik pengumpulan data, komponen-komponenya terdiri dari:

  1. Informasi atau keterangan yang akan dikumpulkan (data)
  2. Sumber data (responden)
  3. Alat pengumpulan atau perekaman data (angket)
  4. Peneliti dan atau pengumpul data (peneliti).

 

Peneliti berfungsi:

–          Menjabarkan informasi atau keterangan yang akan dikumpulkan beserta sumber data (responden)

–          Menyusun alat perekaman atau instrumen pengumpulan data (angket).

 

Alat pengumpulan data (angket) berfingsi mewaliki peneliti untuk menanyakan dan merekam jawaban responden, sehubungan dengan informasi atau keterangan yang hendak dikumpulkannya.

Responden berfungsi sebagai pemberi keterangan tentang yang ditanyakan oleh peneliti melalui angket yang disusun dan disebarkan.

 

Komponen-komponen angket sebagai alat pengumpulan data:

1.       Surat pengantar, merupakan bagian tersendiri yang lazimnya dipisahkan penyusunannya dengan instrumen angket , isinya  bersifat  menghantar sehingga ada kesediaan melayani maksud peneliti berkenaan dengan   angket yang disebarkan ke responden.

  1. Petunjuk pengisian merupakan bagian angket yang berfungsi menjelaskan kepada responden tentang cara pengisian jawaban pada item pertanyaan.
  2. Item pertanyaan, merupakan bagian angket yang     meminta pengisian atau jawaban dari responden. Pada item pertanyaan disrtakan kemungkinan jawabannya, sehingga responden tinggal mengisi pilihan atau tanpa disertakan kemungkinan jawabannya, sehingga responden mengisi sendiri formulasi jawabnnya pada kolom yang disediakan (item pertanyaan terbuka).
ANALISIS DATA

Analisis data merupakan bagian yang penting dalam penelitian, karena dengan melakukan analisis, data dapat diberi arti dan makna yang berguna dalam pemecahan masalah penelitian.Data mentah yang telah dikumpulkan perlu dipecahkan dalam kelompok-kelompok, diadakan kategorisasi, sehingga data tersebut mempunyai makna untuk menjawab masalah dan bermanfaat untuk menguji hipotesis.

Setelah data disusun dalam kelompok-kelompok serta hubungan-hubungan yang terjadi dianalisa, kemudian dibuat penafsiran-penafsiran terhadap hubungan antara fenomena yang terjadi  dan membandingkan dengan fenomena-fenomena lain di luar penelitian tersebut.

 

EDITING

Sebelum data diolah, data tersebut perlu diedit untuk memperbaiki kualitas data serta menghilangkan keragu-raguan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengedit data, yaitu apakah :

  1. Data sudah lengkap dan sempurna?
  2. Data sudah cukup jelas tulisannya untuk dapat dibaca?
  3. Semua catatan dapat dipahami?
  4. Semua data sudah cukup konsisten?
  5. Data cukup uniform?
  6. Ada responsi yang tidak sesuai?

 

CODING

Data yang dikumpulkan dapat berupa angka, kalimat pendek atau panjang, ataupun hanya “ya” atau “tidak “. Untuk memudahkan analisis, maka jawaban-jawaban tersebut perlu diberi kode. Mengkode jawaban adalah menaruh angka pada tiap jawaban. Pemberian kode dapat dilakukan dengan melihat jenis pertanyaan, jawaban atau pertanyaan. Hal ini dibedakan:

  1. Jawaban yang berupa angka
  2. Jawaban dari pertanyaan tertutup,
  3. Jawaban pertanyaan semiterbuka,
  4. Jawaban pertanyaan terbuka,
  5. Jawaban pertanyaan kombinasi

TABULASI

Membuat tabulasi memasukan data ke dalam tabel-tabel, dan mengatur angka-angka sehingga dapat dihitung jumlah kasus dalam berbagai kategori.

Peneliti perlu meneliti hubungan-hubungan antara dua atau beberapa variabel dengan menggunakan tabulasi silang.

Tabulasi silang adalah suatu teknik untuk membandingkan dua variabel klasifikasi. Teknik ini menggunakan tabel yang emmiliki sejumlah baris dan kolom yang berhubungan dengan  tingkat atau nilai dari masing-masing kategori.

Bagian-bagian dari tabel, tabel terdiri dari kolom dan baris. Tabel sederhana mempunyai 4 bagian penting:1) nomor dan judul tabel; 2) stub; 3) box head; dan 4) body (badan).

 

Tabel                        Judul

Box head

Body (badan)

                   Sub

 

 

Total

 

 

Jenis-jenis tabel yang sering digunakan, antara lain:

1)       tabel induk (master table): tabel yang berisi semua data yang tersedia secara terperinci. Tabel induk dibuat untuk melihat kategori data secara keseluruhan, berisi semua informasi dan keterangan yang diperlukan, diletakan pada apendiks.

2)       tabel texs (texs table): tabel yang telah diringkaskan untuk suatu keperluan tertentu. Tabel ini biasanya diletakan dalam teks keterangan yang dibuat dan dibuat ketika membuat penafsiran.

3)       tabel frekuensi: tabel yang menyajikan berapa kali sesuatu hal terjadi. Kategori dinyatakan dalam kelas tertentu dan terdapat dalam stub.

Tabel frekuensi sering digunakan untuk mencek kesesuaian hubungan jawaban antara satu pertanyaan dengan pertanyaan lain dalam daftar pertanyaan.

 

 

TEKNIK ANALISIS DATA

Teknik analisis data dalam penelitian kuantitatif menggunakan statistik. Terdapat dua macam statistik yang digunakan untuk analisis data dalam penelitian, yaitu statistik deskriptif, dan statistik inferensial.

 

Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau  menggambarkan data yang telah terkumpul tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi.

Yang termasuk dalam statistik deskriptif antara lain penyajian data melalui tabel, grafik, diagram lingkaran, pictogram , perhitungan modus, median, mean, perhitungan desil, persentil, perhitungan penyebaran data melalui perhitungan rata-rata dan standar deviasi, perhitungan presentase.

 

Statistik inferensial (statistik induktif atau statistik probabilitas)adalah teknik statistik yang digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk populasi. Statistik inferensi meliputi statistik parametris dan statistik nonparametris.

 

Penggunaan statistik parametris dan nonparametris tergantung pada asumsi dan jenis data yang akan dianalisis. Statistik parametris memerlukan terpenuhi banyak asumsi yaitu data yang dianalisis harus berdistribusi normal, salah satu test mengharuskan data homogen, dalam regresi harus terpenuhi asumsi linieritas.

 

Statistik nonparametris tidak menuntut terpenuhi banyak asumsi, oleh karena itu statistik nonparametris disebut juga distribusi free (bebas distribusi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: