Tinggalkan komentar

Sub Pokok Bahasan : Pendahuluan


1.1   Latar Belakang Penelitian

Latar belakang penelitian merupakan kesenjangan antara harapan dan fakta (dasein dan dasolen) dalam artian konsep/variabel, fakta dan teori. Karena itu dalam menentapkan masalah perlu diperhatikan: (1) tunjukkan kenyataan yang saudara dipikirkan, misalnya ambil dari data sekunder (laporan-laporan) atau mungkin dari lapangan langsung sebagai field study; (2) tunjukkan harapan yang saudara dengan kenyataan itu; misalnya berupa ketentuan-ketentuan, patokan-patokan, fakta, teori, hukum atau aksioma dari referensi tertentu; (3) tunjukkan kesenjangan antara harapan dan kenyataan tersebut; (4) tunjukkan alternatif  jawaban/pemecahan kesenjangan itu lebih dari satu altenatif (jika hanya satu alternatif tidak merupakan masalah penelitian; (5) tunjukkan mengenai pentingnya masalah itu untuk dipecahkan (apa kekhawatiran Saudara jika tidak dipecahkan, akan mengganggu apa, atau berdampak bagaimana).

Setelah Saudara tunjukkan kelima hal tersebut, identifikasi masalah yang telah tersebut. Caranya dengan menyatakan masalah yang ditetapkan itu dengan kalimat pernyataan (statement). Oleh karena itu disebut pernyataan masalah (problem statement); sedangkan penetapan masalah disebut problem setting. Agar masalah itu terkesan perlu dijawab (dipecahkan) bisanya perumusan dalam bentuk pernyataan itu diubah ke dalam bentuk pertanyaan, sebagai pernyataan penelitian (research question). Pernyataan tersebut dinyatakan secara singkat, jelas, dan tegas, misalnya : (1) bagaimana deskripsi khusus dari fenomena yang terjadi itu; (2) bagaimana fenomena umum dari fenomena yang terjadi itu; (3) bagimana penjelasan mengenai terjadinya fenomena itu; (4) metode dan teknik apa yang dapat mencapai tujuan secara efektif; (5) sejauh mana fenomena dapat terjadi pada suatu situasi kondisi tertentu.

Perlu diperhatikan dalam identifikasi masalah, bentuk pertanyaan penelitian tidak perlu membubuh tanda tanya di akhir kalimatnya (karena merupakan kalimat tanya tidak bertanya).

 

1.2  Perumusan Masalah

Karena masalah penelitian yang diidentifikasi, baik dalam bentuk problem statement, maupun dalam bentuk research question, masih bersifat umum, maka perlu dirumuskan secara jelas dan tegas serta operasional. Merumuskan masalah berarti merinci identifikasi masalah yang bersifat umum itu kepada bagian-bagiannya (dimensi-dimensinya) sampai pada unsur-unsur (indikator-indikatornya), secara lebih konkrit (jelas dan tegas) dan operasional.

Berdasarkan hal tersebut peneliti dituntut untuk mampu menguasai komponen dari fenomena-fenomena yang dijadikan masalah penelitian tersebut. Seperti diketahui bahwa fenomena yang dipermasalahkan itu dapat berupa wujud benda/barang, proses atau pun fungsi. Deskripsi khusus dari fenomena itu digambarkan oleh unsur-unsurnya, ciri-cirinya, dan sifat-sifatnya. Deskripsi umum digambarkan oleh: (1) golongan-golongan (fenomena yang berunsur sama), (2) Karakteristik-karaketeristik/kategori-kategori (golongan yang berciri sama); dan oleh (3) klasifikasi-klasifikasi (kategori yang mempunyai sifat sama). Kesemuanya itu telah dinyatakan dalam nama-nama, dan istilah-istilah, dan kemudian menjadi konsep-konsep atau variabel-variabel, beserta batasan-batasan artinya (definisi-definisinya); kemudian variabel-variabel disusun dalam proposisi-proposisi (pernyataan) sebagai eksplanasi (penjelasan) faktual. Kemampuan memahami hal-hal itulah yang memungkinkan peneliti dapat mengidentifikasikan fenomena yang menjadi masalah penelitiannya itu.

Cara menyajikan identifikasi masalah ini adalah mengurut (merinci) butir demi butir; dimulai dari yang paling kuat (penting); kalimatnya dapat berbentuk ”problem statement” tapi pada umumnya bentuk ”research question”. Contohnya adalah sebagai berikut : Identifikasi masalah : ”belum mengetahui deskripsi dari fenomena yang terjadi secara khusus” atau ”bagaimana deskripsi khusus dari fenomena yang terjadi”. Rumusan masalah: (1) belum mengetahui unsur-unsur, ciri-ciri dan sifat-sifat dari wujud fenomena atau bagaimana unsur-unsur, ciri-ciri dan sifat-sifat dari wujud fenomena; (2) belum mengetahui unsur-unsur, ciri-ciri dan sifat-sifat dari proses terjadinya atau bagimana unsur-unsur, ciri-ciri dan sifat-sifat dari proses terjadinya; (3) belum mengetahui unsur-unsur, ciri-ciri dan sifat-sifat dari fungsi fenomena; atau bagimana unsur-unsur, ciri-ciri dan sifat-sifat dari fungsi fenomena.

 

1.3  Maksud dan Tujuan Penelitian

1.3.1 Pemahaman

Maksud, Tujuan dan Kegunaan penelitian adalah konsekuensi logis dari masalah yang telah ditetapkan, diidentifikasi dan dirumuskan. Maksud penelitian, menunjuk pada apa yang akan dikerjakan dalam penelitian itu dalam rangka menjawab masalah-masalah itu. Sedangkan Tujuan Penelitian, menunjuk pada apa yang akan diperoleh atau dicapai oleh Maksud Penelitian itu. Kegunaan Penelitian, menunjuk pada manfaat dari hasil penelitian itu,; apakah berguna bagi penambahan dan atau pengembangan pengatahuan, ilmu dan teknologi, adakah pula manfaatnya bagi aspek gunalaksa (operasional) atau aspek praktis.

Dihubungkan dengan proses penelitian selanjutnya, maksud, tujuan, dan kegunaan penelitian yang berpijak pada masalah yang diteliti itu, akan merupakan pegangan atau pijakan bagi metode dan teknik penelitian, pendekatan masalah atau kerangka penelitian dan hipotesisnya, pembahasan hasil penelitian, kesimpulan dan saran-saran; rinciannya sebagai berikut : (1) Maksud Penelitian merupakan pegangan bagi metode dan teknik penelitian serta pembahasan hasil penelitian: (2) Tujuan Penelitian merupakan pegangan bagi pendekatan masalah atau kerangka pemikiran dan hipotesinya serta kesimpulan akhir penelitian; (3) Kegunaan Penelitian merupakan pegangan bagi pengajuan saran-saran.

Berdasarkan hal-hal tersebut, merumuskan maksud dan tujuan serta kegunaan penelitian secara baik dan benar harus menjadi perhatian.

 

 

1.3.2  Merumuskan Maksud Penelitian

Seperti telah dipahami bahwa maksud penelitian menunjuk pada pekerjaan apa yang akan dilakukan dalam penelitian untuk menjawab masalah-masalah yang telah ditetapkan, dirumuskan dan diidentifikasi itu. Berdasarkan hal itu perumusan maksud penelitian seperti dimisalkan sebagai berikut :

Misal 1. ”Penelitian ini bermaksud (atau maksud dari penelitian ini adalah) untuk mendiskripsi khusus tentang fenomena wujud, proses dan fungsi menurut bagian-bagiannya/dimensi-dimensinya melalui pengamatan unsur-unsur, ciri-ciri dan sifat-sifatnya”. Bentuk lain adalah penelitian ini bermaksud (atau maksud dari penelitian ini adalah) untuk mendiskripsi khusus tentang : (1) fenomena wujud menurut bagianbagian/dimensi-dimensinya melalui pengamatan unsur-unsur, ciri-ciri, dan sifat-sifatnya; (2) fenomena proses menurut bagian-bagian/dimensidimensinya melalui pengamatan unsur-unsur, ciri-ciri, dan sifat-sifatnya; (3) fenomena fungsi menurut bagian-bagian/dimensi-dimensinya melalui pengamatan unsur-unsur, ciri-ciri, dan sifat-sifatnya.

Misal 2. ”Penelitian ini bermaksud (atau maksud dari penelitian ini adalah) untuk mendiskripsi secara general tentang fenomena wujud, proses dan fungsi menurut bagian-bagian/dimensi-dimensinya melalui pengamatan golongan, kategori dan klasifikasinya”.  Bentuk lain adalah penelitian ini bermaksud (atau maksud dari penelitian in adalah) untuk mendiskripsi secara general tentang : (1) fenomena wujud menurut bagian-bagian/dimensi-dimensinya melalui pengamatan golongan, kategori dan klasifikasinya; (2) fenomena proses menurut bagianbagian/dimensi-dimensinya melalui pengamatan golongan, kategori dan klasifikasinya; (3) fenomena fungsi menurut bagian-bagian/dimensi-dimensinya melalui pengamatan golongan, kategori dan klasifikasinya.

Misal 3. ”Penelitian ini bermaksud (atau maksud dari penelitian ini adalah) menjelaskan (mengeksplamasi) fenomena yang terjadi dengan cara menguji hipotesis-hipotesinya secara empirik”. Atau maksud dari penelitian ini adalah menguji jawaban sementara terhadap masalah yang diidentifikasi (hipotesis) secara empirik sebagai upaya mengeksplanasi terjadinya fenomena”.

Misal 4. ”Penelitian ini bermaksud menguji metode-metode dan teknikteknik mencapai suatu tujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat secara eksperimental”.

Misal 5. ”Penelitian bermaksud mengevaluasi suatu fenomena pada situasi kondisi tertentu”.

Misal 6. ”Penelitian bermaksud (maksud penelitian ini adalah untuk memperoleh kejelasan mengenai suatu fenomena pada situasi kondisi tertentu”.

 

1.3.3  Merumuskan Tujuan Penelitian

Seperti telah dipahami bahwa tujuan penelitian menunjuk pada hal-hal yang akan dicapai atau diperoleh oleh maksud penelitian. Dengan demikian tujuan penelitian ini merupakan konsekuensi logis dari maksud penelitian. Jadi sesuai dengan perumusan maksud penelitian itu perumusan tujuan penelitian seperti dimisalkan sebagai berikut:

Misal 1. ”Penelitian ini bertujuan (atau tujuan dari penelitian ini adalah) memperoleh diskripsi khusus dari fenomena wujud, proses dan fungsi sesuai dengan bagian-bagian/dimensi-dimensinya yang digambarkan oleh unsur-unsurnya, ciri-cirinya, dan sifat-sifatnya”. Bentuk lain : tujuan dari penelitian adalah memperoleh diskripsi khusus dari : (1) fenomena wujud menurut bagian-bagian/dimensi-dimensinya yang digambarkan oleh unsur-unsurnya, ciri-cirinya, dan sifat-sifatnya; (2) fenomena proses menurut bagian-bagian/dimensi-dimensinya yang digambarkan oleh unsur-unsurnya, ciri-cirinya, dan sifat-sifatnya; (3) fenomena fungsi menurut bagian-bagian/dimensi-dimensinya yang digambarkan oleh unsur-unsurnya, ciri-cirinya, dan sifat-sifatnya.

Misal 2. ”Penelitian ini bertujuan memperoleh diskripsi general dari fenomena wujud, proses dan fungsi sesuai dengan bagian-bagian/dimensi-dimensinya yang digambarkan dengan golongan-golongan, kategori-kategori dan klasifikasi-klasifikasinya”. Bentuk lain tujuan dari penelitian adalah memperoleh diskripsi general dari : (1) fenomena wujud menurut bagian-bagian/dimensi-dimensinya yang digambarkan oleh golongan-golongan, kategori-kategori, dan klasifikasiklasifikasinya; (2) fenomena proses menurut bagian-agian/dimensidimensinya yang digambarkan oleh golongan-golongan, kategorikategori, dan klasifikasi-klasifikasinya; (3) fenomena fungsi menurut bagian-bagian/dimensi-dimensinya yang digambarkan oleh golongangolongan, kategori-kategori, dan klasifikasi-klasifikasinya.

Misal 3. ”Tujuan penelitian adalah memperoleh ekplanasi (fakta) teruji yang menjelaskan terjadinya fenomena”. Atau penelitian bertujuan memperoleh fakta (hipotesis teruji secara empiris) yang menjelaskan fenomena”.

Misal 4. ”Tujuan penelitian memperoleh metode-metode dan teknikteknik mencapai suatu tujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat secara teruji”.

Misal 5. ”Tujuan penelitian memperoleh evaluasi mengenai keadaan suatu fenomena dalam situasi kondis tertentu”.

 

1.4 Kegunaan Penelitian (Aksiologi)

1.4.1 Merumuskan Kegunaan Penelitian (Aksiologi)

Kontribusi penelitian yang diharapkan yakni secara akademik, empirik, dan simplikasi dengan praktik nyata. Telah dipahami kegunaan penelitian konsekuensi logis dari tujuan penelitian. Selain itu, telah dipahami pula bahwa ada macam kegunaan penelitian, yaitu : kegunaan bagi pengembangan ilmu pengetahuan, ilmu dan atau teknologi (aspek keilmuan) dan bagi aspek gunalaksa (aspek praktis). Juga telah dipahami bahwa hasil penelitian (yang dicapai tujuan penelitian) itu mungkin

pengetahuan khusus (yang dinyatakan dengan diskripsi khusus), pengetahuan general (yang dinyatakan dengan diskripsi general), pengetahuan faktual (yang dinyatakan dengan eksplanasi) dan pengetahuan terapan (yang dinyatakan dengan teknologi). Merumuskan kegunaan penelitian dimisalkan sebagi berikut : (1) hasil penelitian berupa pengetahuan khusus (Diskripsi Khusus); bagi aspek keilmuan berguna dalam mengisi ”kekosongan” pengetahuan; dan sebagai bahan untuk mengembangkannya menjadi pengetahuan yang bersifat umum (general). Yang lebih besar porsinya adalah bagi aspek gunalaksa, yaitu digunakan untuk mendiaknosis kasus yang bersangkutan, dalam rangka terapi (pemecahannya); (2) hasil penelitian berupa pengetahuan general (Diskripsi General); bagi aspek keilmuan berguna dalam mengisi ”kekosongan” pengetahuan yang bersifat umum (general), dan universal, dan sebagai bahan untuk mengembangkannya menjadi pengetahuan yang bersifat faktual (kausalitas atau eksplanatif). Bagi aspek gunalaksa pengetahuan general pun berguna dalam mendiagnosis kasus-kasus dalam rangka terapinya yang lebih luas; atau bagi aspek kebijkana ”konseptual”; (3) hasil penelitian berupa pengetahuan factual (Eksplanasi); bagi aspek keilmuan berguna untuk menyusun teori. Seperti diketahui bahwa teori itu adalah jalinan fakta menurut kerangka bermakna (Meaningfull construct). Bagi aspek gunalaksa pengetahuan faktual juga berguna untuk mendiaknosis kasus-kasus dalam rangka terapinya secara lebih luas dan eksplanif; (4) hasil penelitan berupa pengetahuan terapan (Teknologis); bagi aspek keilmuan pengetahuan terapan (teknologis) berguna bagi akumulasi faktual dalam mendukung teori-teori yang telah ada; atau bagi pengembangan teori-teori baru. Bagi aspek gunalaksa sudah jelas, karena bersifat terapan dan merupakan cara (metode dan teknis) untuk memecahkan masalahmasalah praktis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: