Tinggalkan komentar

GETTING STARTED



            Tujuan pembahasan ini adalah untuk membantu peneliti atau calon peneliti “Apa yang dilakukan setelah ia memutuskan untuk melakukan peneltian “.

Paling sedikit ada 6 isu yang dibahas dalam bab ini yaitu :

  • Memilih suatu topik
  • Apa yang dilakukan peneliti jika ia tidak dapat memikirkan suatu topik
  • Focusing: Bagaimana peneliti menentukan focus penelitian yang layak dan relevan dari ide-ide semula yang telah dimiliki.
  • Memilih dan menghubungi pembimbing
  • Penelitian individu dan kelompok.
  • Membuat catatan harian penelitian.

Keenam isu tersebut dibahas lebih jauh dalam uraian dibawah ini.

1. Memilih suatu topik (choosing a topic)

memilih suatu topik penelitian dapat dipandang sebagai suatu keputusan paling penting dilakukan oleh peneliti. Dalam melakukan pemilihan topik penelitian ini ada 12 aspek yang penting dipertimbangkan oleh peneliti atau calon peneliti :

1.    Berapa banyak pilihan yang perlu diteliti (how much choice you have)

2.    Motivasi (your motivation)

3.    Peraturan dan harapan (regulations and expectations)

4.    Jurusan atau bidang studi (your subject or field of study)

5.    Mempertimbangkan contoh-contoh peneltian sebelumnya (previous examples of research projects)

6.    Ruang lingkup topik yang dipilih ( the size of your topic)

7.    Waktu yang tersedia untuk penelitian (The time you have available)

8.    Biaya penelitian (the cost of research)

9.    Sumber-sumber yang tersedia (the resources you have available)

10.  Dukungan yang dibutuhkan (you need for support)

11.  Isu-isu akses (access issues)

12.  Metode-metode penelitian (methods for researching)

2.  Jika belum dapat memikirkan suatu topik (what to do it you can’t think of a topic)

Jika peneliti atau calon peneliti sudah committed  untuk melakukan suatu penelitian tetapi ia sendiri belum mengetahui atau belum yakin terhadap topik penelitiannya, maka ia dapat melakukan salah satu atau beberapa dari saran-saran berkut ini:

1.    Bertanya kepada pembimbing, kolega atau kepada teman.

2.    Mengkaji hasil-hasil penelitian sebelumnya yang relevan.

3.    Mengembangkan penelitian sebelumnya (penelitian ulang).

4.    Menghubungkannya dengan topik yang diinginkan.

5.    Memikirkan suatu judul penelitian.

6.    Memulai dari suatu kutipan yang sangat menarik perhatian.

7.    Menindaklanjuti prasangka-prasangka peneliti sendiri.

8.    Membuat gambaran atau diagram untuk peneltian sendiri.

9.    Memulai penelitain darimana saja yang disukai peneliti.

10.  Tetapi harus disiapkan mengubah arah/pedoman penelitian.

Suatu hal yang penting diingat dalam kaitannya dengan bila peneliti belum menentukan atau belum yakin pada suatu topik penelitiannya, adalah:

  1. Perubahan topik peneltian dapat bersifat positif;
  2. Banyak penelti terpaksa mengubah proyek atau focus penelitiannya;
  3. Peneliti harus selalu berusaha mengakhiri proyek penelitiannya lebih dari mana ia mulai memikirkan penelitiannya.

3.  Focusing

Apabila peneliti sudah menetapkan suatu topik penelitian atau beberapa alternatif topik yang memungkinkan, selanjutnya ia dituntut untuk menyempurnakan dan menetapkan fokusnya. Kegiatan menetapkan focus penelitian (focusing) bukan merupakan suatu proses yang terjadi secar tiba-tiba tetap terjadi seiring dengan berjalannya waktu yang dilalui oleh peneliti. Selama periode ini peneliti dituntut untuk banyak membaca literature dan sumber-sumber yang relevan, memikirkan metode yang akan digunakan,serta membuat dan menyempurnakan desain penelitiannya;meskipun sebenarnya banyak proyek penelitian yang belum ditetapkan fokusnya hingga dilakukan proses pengumpulan dan analisisi data penelitian. Beberapa teknik untuk memfokuskan poenelitian adalah:

  1. Mengindentifikasi pertanyaan-pertanyaan ayau hipotesis penelitian.
  2. Membatasi konsep-konsep,isu-isu atau konteks-konteks penelitian.
  3. Mengaplikasikan model-model penelitian Doughnut & Jam Roly-Poly.
  4. Membuat sketsa garis besra atu proposal penelitian.
  5. Melakukan uji coba seadanya (trying out on a non- spicialist), dan nyatakan/rumuskan topik dalam kalimat tunggal.
  6. f.        Lakukan  kegiatan –kegiatan penelitian secara informal tapi memberikan kontribusi penting untuk penyelesaian proyek penelitian (Informal piloting).

4. Memilih dan menghubungi pembimbing (finding and choosing your supervisor)

Mengubungi dan meminta bantuan pembimbing memiliki peranan yang sangat penting dalam proses perenvanaan, pelaksanaan dan penyelesaian pembimbing. Jika kegiatan ini belum atau tidak bisa dilakukan, peneliti dapat juga menghubungi dan meminta pendapat dari beberapa peneliti yang sudah berpengalaman.

Siapa sebenarnya pembimbing (supervisor) penelitian itu? Istilah supervisor adalah istilah yang umum digunakan dalam dunia pendidikan tinggi dalam kaitannya dengan peneyelesaian program studi mahasiswa. Supervisor atau pembimbing dalam hal ini adalah merek yang memiliki tanggung jawab personal pada kemajuan penelitian indicidual mahasiswa yang dibimbingnya.

Apa pentingya menghubungi pembimbing penelitian? Hasil peneilitian Phillips dan Pugh menyarankan apa yang umumnya diharapkan mahasiswa dari pembimbing, dan sebaliknya apa saja yang diharapkan pembimbing dari mahasiswa peneliti yang dibimbingnya.

Harapan mahasiswa pada umunya dari pembimbing adalah : Memberikan bimbingan, membaca hasil pekerjaan, mahasiswa lebih dahulu sebelum mahasiswa berkonsultasi, kesiapan dihubungi bila diperlukan mahasiswa peneliti, bersikap ramah dan terbuka, serta memberi dukungan pada mahasiswa, memberi kritik yang bersif  membangun, memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam bidang ilmunya, menyusun tutorial sehingga relatif mudah mengubah ide-ide tentang penelitian, memiliki daya tarik pada penelitian mahasiswa sehingga ia (pembimbing) dapat memberikan informasi yang lebih bermakna, membantu mahasiswa mendapatkan pekerjaan bila sudah selesai proyek penelitiannya.

Sebaliknya harapan pembimbing pada umunya dari mahasiswa yang dibimbingnya adalah:Kemandirian mahasiswa, menuangkan hasil pekerjaan yang telah dilakukan mahasiswa dalam bentuk tertulis (bukan dalam bentuk draft awal ), aktif mengikuti pertemuan –pertemuan bimbingan penelitian secara reguler, jujur melaporkan kemajuan penelitiannya, mengikuti saran yang telah diberikan pembimbing dan mahasiswa memiliki daya tarik yang tinggi pada penelitiannya sendiri.

5. Penelitian idividual dan penelitian kelompok (individual and group research)

Latihan penelitian dalam skala kecil dapat dilakukan dalm kegiatan penelitian kelompok atau dilakukan sendiri. Hal ini hanya sekedar masalah pilih , tetapi mungkin juga ditentukan sesuai dengan hakekat penelitian itu sendiri, atau bahkan bias juga karena memang diminta secara formal sesuai dengan program/jurusan mahasiswa peneliti. Sementara banyak issu yang sama mempenegruhi proses penelitian kelompok dan penelitian individual, namun ada aspek –aspek penting dipahami yang membedakan kedua jenis penelitian ini.

Penelitian kelompok:

  • Setiap anggota dituntut untuk sama –sama bertanggung jawab terhadap penelitian.
  • Setiap anggota kelompok dapat memilih bagian penelitian yang sesuai dengan minat dan bidang keahliannya.
  • Memberi pengalaman kerja dalam tim.
  • Mendorong mahasiswa meningkatkan kemampuannya mengelola topik penelitian yang scope-nya luasdari pada yang dapat dilakukannya sendiri.
  • Dapat memberikan yang telah dipersiapkan bagi setiap anggota kelompok.

Penelitian individual:

  • Dapat memberikan paten hasil penelitian terhadap mahasiswa peneliti itu sendiri.
  • Dapat bertanggung jawab sepenuhnya pada kemajuan dan keberhasilan penelitian.
  • Dapat lebih memfokuskan  proyek penelitian.
  • Keseluruhan kualitas penelitian ditentukan sendiri oleh mahasiswa peneliti.
  • Peneliti dituntut untuk mempersiapkan senidri seluruh perlengkapan penelitiannya.

Beberapa isu yang penting dipertimbangkan dalam manajemen penelitian kelompok (Group research managing) khususnya dalam kaitannya dengan dinamika kelompok adalah:

  1. Apakah  kelompok membutuhkan dan memiliki seorang pimpinan?
  2.  Siapa yang bertanggung jawab atas pengaturan pertemuan –pertemuan, menulis hasil –hasil pertemuan serta kemajuan –kemajuan penelitian?
  3. Apa kontribusi dan kelemahan kelompok dalam upaya mencapai tujuan –tujuan penelitian?
  4.  Bagaiamana pembagian tugas dan tanggung jawab penelitian bagi setiap anggota kelompok?
  5. Sejauh mana tiap  anggota  kelompok mampu memberikan respek terhadap perbedaan –perbedaan individual mereka?
  6. Apakah ada anggota kelompok yang tidak atau kurang senang terhadap tanggung jawab yang dibebankan kepadanya?
  7. Apakah hasil penelitian yang dilaporkan secara tertulis yang dibuat secara individual, secara kolektif, atau keduanya?

Satu hal lagi yang tidak boleh tidak untuk dipetimbangkan baik dalam penelitian kelompok maupun dalam penelitian individual adalah penulisan akhir penelitian (producing the finished product). Kegiatan ini harus dilakukan dengan mempertimbangkan isu-isu yang dikemukakan diatas. Setiap peneliti mungkin saja tidak hanya diminta  secara formal membuat suatu hasil atau produk akhir penelitian secara individu tetapi juga harus mendemonstrasikan dengan jelas apa kontribusinya secara individual pada hasil atau produk akhir dari penelitian kelompoknya.

6. Penggunaan catatan harian penelitian (Keeping your research diary)

Apapun jenis penelitian yang dilakukan, dan tanpa memandang metodologinya, peneliti dapat memetik hikma  dari penggunaan catatan harian penelitiannya. Dalam diary ini peneliti dapat mencatat perasaan/pandangan –pandangannya, pamikiran –pemikiran suasana hati dan insights-nya mengenai focus penelitiannya, dan kemajuan –kemajuan harian dari pelaksanaan proyek penelitiannya.  Format diary ini seragam antara peneliti sang satu dengan yang lain. Tetapi juga bisa disesuaikan  dengan selera indvidual peneliti, namun tanpa mengabaikan aspek-aspek umum  diary penelitian .

Salah satu pemikiran yang merekomedasikan penggunaan diary penelitian adalah dari Schatzman dan Strauss (1973:146). Rekomendasi ini menyatakan agar diary penelitian memuat hal –hal yang berkaitan dengan pencatatan pengamatan (observational notes), metodelogi, teoritis, dan analisis hasil penelitian. Rekomendasi ini hanya merupakan salah satu strategi penggunaan diary penelitian. Oleh karena itu tidak tertutup kemungkinan diterapkan format lain diary penelitian dengan selera individual peneliti.

Format diary penelitian Schatzman dan Strauss (1973) adalah sebagai berikut:

Empat bagian diary penelitian

  1. Bagian pencatatan hasil –hasil observasi. Bagian ini diganakan untuk menuliskan events yang dialami peneliti yang melalui panca indranya: melihat, mendengar dll. Dalam bagian ini sebaiknya peneliti tidak mencatat hasil –hasil interprestasinya terhadap pengalaman-pengalamannya. Atau, hanya memuat sedikit mungkin interprestasi yang reliable yang dapat dirumuskan oleh peneliti.
  2. Bagian pencatatan aspek –aspek metodelogi. Bagian ini duguanakan untuk mencatat atau menulis rumusan pernyataan yang merefleksikan operasional kegiatan penelitian yang telah direncanakan, termasuk waktu, konsekuensi, dan tahap –tahap pelaksanaan penelitian.
  3. Bagian penecatatan teoritis. Bagian ini diguanakan untuk menuliskan hal-hal yang lebih bersifat mengingatkan peneliti sendiri mengenai teori-teori yang mendasari penelitiannya.
  4. Bagian pencatatan analisis data penelitian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: