Tinggalkan komentar

Intellectual Capital, Strategi Pengembangan Organisasi dan Sumber Daya Manusia


Intellectual capital can be defined in different ways

Dalam konteks pengukuran investasi pengetahuan (knowledge investment),  Khan (2005) mengatakan bahwa belum ada definisi yang diterima bersama (commonly accepted definition) tentang investasi pengetahuan, walaupun mulai ada penyelarasan pemahaman tentangnya. Oleh karena itu, konsep  intelectual capital  sebagai konsep penting kehidupan dan pengembangan organisasi-organisasi dan kehidupan ekonomi yang lebih luas. Ia kini digunakan di tengah, menandingi, atau melengkapi konsep-konsep lainnya tentang modal. Konsep­-konsep tentang modal yang sudah kenal di antaranya adalah modal (finansial), modal fisik, dan juga modal manusia

Sebagai sebuah konsep, intellectual capital merujuk pada modal-modal non fisik atau yang tidak berwujud (intangible assets) atau tidak kasat mata (invisible). Ia terkait dengan pengetahuan dan pengalaman manusia serta teknologi yang digunakan. Intellectual capital memiliki potensi memajukan organisasi dan masyarakat

Secara ringkas Smedlund dan Poyhonen (2005) mewacanakan Intellectual capitall sebagai kapabilitas organisasi untuk menciptakan, melakukan transfer, dan mengimplementasikan pengetahuan. Tampak sebanding dengan itu, Nahapiet dan Ghoshal (1998) merujuknya sebagai knowledge dan knowing capability yang dimiliki oleh sebuah kolektivitas sosial (misalnya organisasi, komunitas intelektual, komunitas profesi). Definisi ini digunakan mereka dengan pertimbangan kedekatannya dengan konsep modal manusia, salah satu unsur modal intelektual yang oleh Fitz-enz (2000) disebut sebagai katalisator yang mampu mengaktifkan intangibles, komponen lain yang inactive. Secara eksplisit, definisi ini terkesan tidak cukup memadai untuk menjelaskan secara empiris sampai sejauh mana cakupan makna intellectual capital, dalam kedua komponen tersebut, knowledge dan knowing capability. Namun, dalam penjelasannya, mereka membedakan dua jenis pengetahuan, yakni pengetahuan individual, baik yang eksplisit (disebut conscious knowledge oleh Spender) maupun yang tacit (automatic knowledge), serta pengetahuan sosial yang juga terdiri atas yang eksplisit (objectified knowledge) dan yang tacit (collective knowledge). Penjelasan tersebut menglarifikasi batasan konsep mereka yang dapat disetarakan dengan definisi oleh penulis lain (e.g. Fitz-enz 2000; Pyke, Rylander, and Roos 2001; Lonnqvist and Mettanen tt) yang menggambarkan komponen­komponen kunci dari intellectual capital, yang akan dibahas secara terpisah di bawah

 

Dimensi Intellectual Capital

Pembahasan tentang konstruksi atau dimensi  intellectual capital merupakan bagian dari definisi atau cakupan konsep. Namun, dalam hal ini dipisahkan untuk mengurai unsur-unsur pembentuk intellectual capital ini sehingga relatif memudahkan untuk melihat kaitannya.

Lonnqvist dan Mettanen misalnya merujuk pada kerangka yang dipakai oleh Edvinsson dan Malone (1997), Sveiby (1997), Brooking (1996), serta Marr et al. (2002).

Edvinsson dan Malone menfokuskan pada human, structural, dan customer capital.  Sveiby (Guthrie and Petty 2000) menyebut konstruksinya adalah employee competence, internal structure, dan external structure.

Makna setiap elemen hampir selaras, hanya sub konstruksi budaya Human capital, sama seperti penjelasan Fitz-enz, terdiri atas seluruh kemampuan, ketrampilan, dan pengalaman manusia pelaksana.

Structural capital berisikan infrastruktur pendukung manusia seperti database dan paten.

Sedangkan customer capital berisikan seluruh potensi terkait relasi dengan konsumen.

Filosofi manajemen organisasi  dalam Edvinsson dan Malone merupakan bagian dari human capital atau kapabilitas individu pekerja, oleh Sveiby ditempatkan dalam bagian internal structure.

Sedangkan Brooking justru memecah menjadi 4 konstruksi, yakni:

  1. Human-centred assets,
  2. Infrastructural assets,
  3. Intellectual property assets, dan
  4. Market assets.

Tidak berbeda  konstruk dari Edvinsson dan Malone serta Sveiby, kecuali bahwa komponen structural capital atau internal structure dipecah lagi oleh Brooking menjadi dua komponen yang terpisah.

Aset­aset infrastruktur termasuk di dalamnya adalah proses-proses, metode, dan teknologi.

Sedangkan, properti intelektual berisikan hak cipta dan paten. Modelnya Marr dkk pun sebetulnya tidak berbeda, walau dinamakan lain dan dikelompokkan menjadi 2 konstruksi besar yakni stakeholder resources (terdiri dari external stakeholder relationships dan human resources) dan structural resources (physical/tangible dan virtual/intangible).

Kerangka tambahan yang dapat diajukan yang cukup selaras adalah kerangkanya Pyke et al (2001) dan Fitz-enz (2000). Kerangka ini barangkali dapat dijadikan pegangan utama, mengingat konfirmasi Pyke dkk bahwa setelah melalu berbagai review dalam 2 tahun terakhir (acuan tahun publikasi mereka) telah terjadi konvergensi dalam kategorisasi dan bahasa yang digunakan dalam intellectual capital. Menurut kedua sumber itu, modal intelektual tersusun atas 3 Konstruksi (Dimensi), yakni:

  1. Seluruh atribut human capital (seperti intelektual, skills, kreativitas, cara kerja),
  2. Organizational capital (property intelektual, data-data proses-proses, budaya), dan
  3. Relational capital5 (seluruh relasi eksternal dengan konsumen, suppliers, partners, networks, regulators, dll). Keseluruhan hal itulah yang membentuk kesatuan entitas modal intelektual.

Smedlund dan Poyhonen menjelaskan bahwa relational approach menyangkut di dalamnya relasi­relasi sosial antar actor oleh karena itu melekat di dalamnya adalah modal sosial dalam relasi-relasi itu. Dalam pemahaman demikian, maka konsep intellectual capital merangkum di dalamnya atau berintegrasi dengan konsep social capital, di samping human dan organizational capital (Von Mutius 2005, p. 152).

 

Konstruksi-konatruksi tersebut juga sebanding dengan konatruksi dalam taksonomi sumber daya intangible yang dikembangkan oleh Bounfour (2005), yakni auntonomous intangibles dan dependent intangible yang memuat unsur-unsur yang telah dibicarakan di atas.

Model-model di atas muncul dari dan berfokus pada konteks atau level analisis perusahaan atau organisasi. Oleh karena itu, oleh Bontis (2005), modal intelektual pada level bangsa dipahami sebagai nilai-nilai tersembunyi (hidden values) dari individu-individu, perusahan-perusahaan, institusi-institusi, dan masyarakat serta wilayah yang merupakan sumber nyata maupun potensial bagi penciptaan nilai/kesejahteraan. Lebih jauh, dengan mengadopsi model Edvinsson dan Malone, Bontis (2005) merumuskan komponen modal intelektual bagi konteks bangsa atau masyarakat. Menurutnya dalam konteks ini, modal intelektual terdiri atas human capital, organizational capital (dipilah menjadi renewal capital dan process capital), serta market capital.6 Bersama dengan kekayaan/modal finansial, modal intelektual membentuk kekayaan/kesejahteraan bangsa, setara dengan konsep nilai pasar dari suatu perusahaan.

Masalah Pengukuran Intellectual Capital

Merujuk Fitz-enz (2000), mengakhiri abad 20, para pengelola organisasi telah menerima bahwa oranglah, dan bukannya kas, bangunan, dan peralatan, yang merupakan faktor pembeda kinerja.

Apalagi ketika kini kita memasuki masyarakat atau perekonomian berbasis pengetahuan, peran modal manusia dan komponen modal intelektual lainnya menjadi sangat critical. Karena nilai kontribusinya yang makin signifikan, maka diperlukan suatu sistem pengukuran yang handal untuk maksud mengukur untuk mengetahui di mana letak nilai (ekonomis) dan potensi-potensi sehingga dapat digunakan untuk mengelola modal intelektual bagi pertumbuhan.

Human capital dalam konteks bangsa dimaknai sebagai pengetahuan, pendidikan, dan kompetensi penduduk. Process capital adalah penyimpan pengetahuan non-manusia, yakni dalam sistem ICT. Market capital adalah menyangkut kemampuan suatu Negara membangun relasi-relasi domestiknya untuk menyediakan solusi yang atraktif dan kompetitif kepada clients internasionalnya (tergambar dalam hukum, institusi pasar, dan jejaring sosial). Renewal capital adalah kapabilitas dan investasi untuk pembaruan dan pengembangan keunggulan bersaing, misalnya dalam aktivitas riset dan pengembangan, paten, publikasi ilmiah.

 

Namun, justru salah satu masalah penting yang dihadapi adalah bagaimana mengukur aset-aset tan wujud atau modal intelektual. Hal ini diduga demikian karena memang selama ini kita hidup dalam dan diwariskan oleh suatu rezim manajemen dan akuntansi yang mengabaikan modal intelektual sebagai asset organisasi. Fitz-enz (2000, xi) mengatakan, buku-buku klasik manajemen telah mengabaikan, menghindar, atau menunjukkan sikap remeh terhadap nilai dalam diri manusia (human value). Sistem-sistem akuntansi yang sudah beroperasi lebih dari 500 tahun dinilai tidak memadai untuk tugas ini (Boudreau and Ramstad 1996).

Lebih jauh, teori-teori modal yang berkembang dan beroperasi pada abad 19 (hingga awal abad 20) hanya atau lebih ’memberi muka’ kepada investasi pada aset-aset berwujud/fisik (tangible/physical assets), seperti pabrik dan peralatannya. Jika manusia diperhitungkan, maka ia hanya dinilai tenaganya (labor). Jelas ini adalah suatu bentuk pengabaian yang sangat parah, mengabaikan kemampuan manusia mengonsep dan membangun piramida di Mesir pada 3000an tahun lalu misalnya atau melakukan pekerjaan dan menghasilkan karya-karya besar dalam sejarah peradaban manusia. Jika pun telah ada stimulasi ide dari para pemikir seperti Marx, Gompers, Fayol, Barnard, Drucker, Peters, dan Handy, sampai mengakhiri abad 20 kita belum berhasil menuntaskan bagaimana mendemonstrasikan secara detail nilai relatif dari elemen manusia dan pengetahuan dan kemampuannya dalam persamaan keuntungan/profit (Fitz-enz 2000). Menurut istilah Boudreau dan Ramstad (1996), “no… magic bullet yet exists.”

Mengapa sulit? Merujuk Khan (2005), pekerjaan mendefinisikan dan khususnya mengukur pengetahuan dan modal intelektual secara umum dapat dikatakan sebagai sesuatu yang baru dan akan terus berkembang. Ia lebih jauh mengatakan, ada isu-isu konseptual yang belum tuntas yang kemudian berdampak pada masalah pada level pengumpulan data dalam upaya pengukuran ini. Di samping itu, menurut Nakamura (2005), proses produksi untuk faktor intangible (intellectual capital) lebih beresiko, daripada tangible assets. Namun, walaupun sulit, sangat jelas seperti dikemukakan Fitz-enz (2000) dan Nakamura (2005), bahwa mengukur human capital atau intellectual capital adalah mungkin.

Karena itu, seperti direview oleh beberapa penulis (Lonnqvist dan Mettanen tt; Boudreau dan Ramstad 1996; Guthrie dan Petty 2000; Malhotra 2003) ada sejumlah sistem, pendekatan, atau pengukuran yang telah dikembangkan atau dapat digunakan, walaupun masih terdapat sejumlah persoalan dengan pengukuran-pengukuran itu. Secara cukup lengkap, Malhotra mencatat sejumlah pendekatan pengukuran itu, yakni Skandia Navigator (Edvinsson and Malone), Balanced Scorecard (BSC, Kaplan dan Norton), Intangible Assets Monitor (Sveiby), IC-Index Model and HVA Model (Roos et al.), Technology Broker Model (Brooking). Pendekatan pengukuran yang bervariasi itu telah digunakan oleh berbagai organisasi/perusahaan dan selanjutnya laporan atau pernyataan tentang dan atas modal intelektualnya itu dipublikasi.

Pada bagian sebelumnya, components apa yang diukur dari model-model di atas telah disampaikan, kecuali BSC. BSC mengukur empat komponen kinerja organisasi, yakni inovasi dan pembelajaran, peningkatan proses bisnis, relasi dengan pelanggan, dan penciptaan nilai financial dan ukuran tanwujud.

Seperti dinyatakan Mouritsen et al. (2001), pernyataan atau laporan modal intelektual bersifat kompleks karena berisikan angka-angka, narasi, dan visualisasi. Angka, narasi, dan visualisasi ini terkait dengan constructs seperti informasi, pengetahuan, ide, inovasi, kreativitas, dan turunan-turunannya (Malhotra 2003). Karena itu, by nature, data atau keterangan yang dikumpulkan bersifat baik kuantitatif maupun kualitatif. Pengukuran-pengukuran itu dipandang penting untuk melengkapi pengukuran/laporan financial.

Sebagai contoh, mengadopsi pengukuran Sveiby, Guthrie dan Petty (2000) menilai pelaporan modal intelektual 20 perusahaan terbaik di Australia dari annual reportnya. 24 variabel digunakan untuk mengidentifikasi apakah annual report perusahaan mengandung komponen/indikator modal intelektual pada 3 kluster/komponen modal intelektual Sveiby (internal structure 9 variabel, external structure 9 variabel, dan employee competence 6 item).

Sebuah model pembanding yang mencoba menggunakan pengukuran kuantitatif adalah metode pengukuran yang dikembangkan Lonnqvis dan Mettanen dari sebuah studi kasus di Finlandia. Berdasarkan diskusi bersama tim manajemen perusahaan kasus, penulis cukup mudah mendapatkan 4 faktor sukses kunci, yakni 1) tanggung jawab, kompetensi terkait computer, 3) pengetahuan tentang operasi perusahaan, 4) pengenalan akan proses-proses bagi pelanggan. Namun, ternyata sulit bagi tim manajemen dan penulis untuk kemudian menentukan indikator konkrit untuk mengukur

Setelah merekonstruksi pendekatannya, penulis bersama management team kemudian datang dengan 8 faktor sukses dan indikator pengukur seperti pada table di bawah. Namun, jelas dalam proses ini sejumlah faktor sukses yang sulit diukur secara kuantitatif atau dikuantifikasi terpaksa dipangkas dan ini mereduksi informasi tentang keadaan modal intelektual. Bahkan, faktor sukses yang diterima tetapi ‘dipaksa’ diukur dengan metode kuantitatif pun mengalami reduksi makna, misalnya faktor sukses

Sedangkan untuk pengukuran modal intelektual bagi bangsa atau masyarakat juga terdapat beberapa kemungkinan pendekatan. Misalnya Bontis (2005) memunculkan National Intellectual Capital Index (NICI) yang tersusun dari National Human Capital Index (NHCI), National Process Capital Index (NPCI), National Market Capital Index (NMCI), National Renewal Capital Index (NRCI) ditambah dengan National Financial Index (Financial Capital/FC). Lain halnya dengan Khan (2005) menggunakan pendekatan pengukuran atas pengeluaran­pengeluaran untuk riset dan pengembangan (R&D) dan inovasi, pendidikan (tinggi) dan pelatihan, dan software.

Institut Bank Dunia dengan program Knowledge for Development membangun Knowledge Economy Index (KEI). Di samping indikator kinerja yakni GDP Growth (%) dan Human Development Index (HDI), ada empat sub-indeks dalam KEI, yakni Economic Incentive and Institutional Regime (EIR: Tariff dan non-tariff barriers, regulatory quality, dan rule of law), Education and Training (adult literacy rate (% age >= 15), secondary enrollment (%), tertiary enrollment (%)), Innovation and Technological Adoption (researchers in R&D/million people, scientific and technical journal articles/million people, patent application granted by US Patent and Trademark Office/million people), serta ICT Insfrastructure (Telephone per 1,000 orang, computers per 1.000 orang, dan internet users per 10.000 orang).

Metode-metode pengukuran yang ada dapat memunculkan hasil di mana suatu organisasi atau masyarakat berada pada kondisi modal intelektual yang tinggi ataupun rendah, sebuah kontinuum. Namun menarik bahwa secara eksplisit dalam konteks seperti, oleh North dan Kares (2005), diangkat dan diukur justru konsep atau kondisi pengabaian (ignorance), yakni kondisi kurangnya pengetahuan, pendidikan, dan informasi tentangn sesuatu atau ketidaksadaran (unawareness) akan sesuatu keadaan. Mereka menyebut pengukuran ini sebagai the ignorance meter.

Terdapat 10 pasang kriteria atau dimensi pengukuran kondisi ignorance vs. intelligence, yakni:

1) autisme vs. openness,

2) blindness vs. vision,

3) followership vs. leadership,

4) disintegration vs. cohesion,

5) vanity vs. self-reflection,

6) abuse vs. use of competencies,

7) regression vs. learning,

8) disruption vs. connectivity,

9) lethargy vs. initiative, dan

10) no-risk vs. experimentation.

Untuk mengukur ignorance North dan Kares menggunakan seperangkat kuesioner berisi 10 pertanyaan yang merefleksikan 10 kriteria di atas dengan jawaban berskala 1 (=not at all/not existent) hingga 7 (=very high).

Pengukuran impact dari modal intellectual, merujuk Fitz-enz (2000), dapat dilakukan dengan melihatnya pada 3 level. Level pertama adalah pada organizational/community goals, baik dampak pada financial, pelanggan, maupun aspek manusia. Level kedua adalah pada tingkat unit bisnis atau sub­masyarakat, dengan mengukur perubahan pada aspek layanan, kualitas, dan produktivitas. Level ketiga yang merupakan dampak primer yakni output pada aspek-aspek manajemen modal intelektual itu sendiri. Misanya pada isu human capital, Fitz-enz mengukut jumlah orang yang dipekerjakan, gaji dan kompensasi lain, dukungan/fasilitasi manajerial, pengembangan, dan kemampuan memertahankan sdm. Juga, dapat diukur nilai-nilai biaya, waktu yang dikonsumsi, volume yang dipakai atau dihasilkan, tingkat kecacatan hasil, serta kecepatan reaksi atas kebutuhan.

Sedangkan pada level masyarakat dapat dilihat beberapa indikator dampak yang diukur seperti pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan standar hidup yang didorong oleh produksi pengetahuan baru baik dalam bentuk teknologi (hak cipta, paten), modal manusia (populasi yang terdidik dan kreatif), maupun program-program komputer dan infrastruktur ICT yang dinamis (Khan 2005). Ambil contoh aplikasinya, Bank Dunia misalnya mengorelasikan KEI dengan GDP per capita (lihat Aubert 2005).

Implikasi bagi Riset dan Kebijakan Organisasi dan Pembangunan

Dari pemaparan di atas, literature telah datang dengan penyimpulan bahwa intellectual capital is a significant source of competitiveness, baik pada level organisasi maupun nasional (lihat Smedlund and Poyhonen 2005). Hal ini tentu membawa implikasi pada upaya untuk lebih memahami kondisi, perkembangan, hambatan, dan berbagai persoalan terkait dengan isu intellectual capital ini. Riset­-riset dan rencana tindakan untuk meningkatkan pemahaman akan kondisi kualitas  intellectual capital perlu dilakukan dan dikembangkan.

Dalam konteks ini, perspective pengembangan sumber daya manusia dan organisasi yang digunakan.

References:

Aubert, Jean-Eric. 2005. Knowledge Economies: A Global Perspective. Dalam Bounfour and Edvinsson.

Barney, Jay B. 1991. Firm Resources and Sustained Competitive Advantage. Journal of Management vol 17 no 1, pp. 99-120.

Barney, Jay B. 2001. Resource-based Theories of Competitive Advantage: A Ten Year Retrospective on the Resource-based View. Journal of Management vol 27, pp. 643-650.

Barney, Jay B. 2007. Gaining and Sustaining Competitive Advantage. US: Pearson Prentice Hall.

Bontis, Nick. 2005. National Intellectual Capital Index: The Benchmarking of Arab Countries.

Boudreau, John W. and Peter M. Ramstad. 1996. Measuring Intellectual Capital: Learning from Financial History. School of Industrial and Labor Relations, Cornell University,

Center for Advanced Human Resource Studies (CAHRS) Working Paper No 96- 08.

Boudreau, John W. and Peter M. Ramstad. 2007. Beyond HR: The New Science of Human Capital. Boston: Harvard Business School Press.

Bounfour, Ahmed and Leif Edvinsson. 2005. Intellectual Capital for Communities Nations, Regions, Cities. Oxford: Elsevier.

Drucker, Peter F. 1997. Manajemen di Tengah Perubahan Besar. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Drucker, Peter F. 2001. The Essential Drucker. New York: Harper Collins.

Fitz-enz, Jac. 2000. The ROI of Human Capital: Measuring the Economic Value of Employee Performance. New York: AMACOM.

Guthrie, James and Richard Petty. 2000. Intellectual Capital: Australian Annual

Reporting Practices. Journal of Intellectual Capital Vol 1 No 3, 241-251. Khan, Mosahid. 2005. Estimating the Level of Investment in Knowledge Across the OECD Countries. Dalam Bounfour and Edvinsson.

Lewin, Peter and Steven E. Phelan. 1999. Rent and Resources: A Market Process Perspective. An unpublished draft of report. Dallas, Texas: University of Texas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: