Tinggalkan komentar

Efisiensi sebagai Sumber Kekuatan Bersaing


Efisiensi adalah penghematan penggunaan sumber daya perusahaan untuk menghasilkan suatu barang atau jasa. Efisiensi dapat diilustrasikan sebagai:

  1. Rasio antara output terhadap input,
  2. Sejumlah output yang dihasilkan per unit input,
  3. Penggunaan sejumlah sumber daya (input) tertentu dengan hasil (output) yang maksimal.

Ilustrasi tersebut sesuai dengan definisi yang dikemukakan oleh Anthony dan Govindaradjan (2007) yang mengemukakan bahwa efficiency is the ratio of output to inputs, or the amount of output per unit of inputs.

Lebih jauh dikemukakan contoh dalam konsep ini yaitu:

Pusat Pertanggungjawaban A dikatakan lebih  efisien daripada Pusat Pertanggungjawaban B jika:

  1. Pusat Pertanggungjawaban A menggunakan sumber daya lebih sedikit daripada Pusat Pertanggungjawaban B tetapi menghasilkan output yang sama,
  2. Jika Pusat  Pertanggungjawaban A dan B menggunakan sumber daya yang sama tetapi Pusat Pertanggungjawaban A menghasilkan output lebih besar dari pada Pusat Pertanggungjawaban B .

Pada kriteria pertama:

Tidak mensyaratkan penghitungan output, yang perlu dilakukan adalah menentukan bahwa output dari dua unit tersebut hampir sama;

Jika hal tersebut terjadi asumsikan bahwa kedua pusat pertanggungjawaban menghasilkan output yang memuaskan.

Pada kondisi tersebut, pusat pertanggungjawaban yang inputnya lebih sedikit adalah pusat pertanggungjawaban yang efisien.

Pada kriteria ke dua:

Diperlukan perhitungan kuantitatif, karena perlu dilihat perbedaan output.

Dalam konteks efisiensi di perusahaan manufaktur, pendekatan kuantitatif dengan melihat perbandingan output dan input  merupakan kajian yang relevan. Untuk menguji tingkat efisiensi penggunaan modal kerja dapat diukur melalui rasio-rasio efisiensi.

Salah satunya adalah tingkat perputaran aktiva lancar (current asset ratio).

Aktiva lancar memiliki hubungan atau korelasi yang erat dengan hasil penjualan. Kenaikan volume penjualan akan segera diikuti dengan kenaikan persediaan dan piutang sehingga diperlukan tambahan modal kerja.

Untuk mengetahui kondisi efisiensi perusahaan dapat pula ditinjau berdasarkan analisis rasio keuangan yang dikategorikan pada rasio efisiensi. Rasio efisiensi  digunakan untuk menentukan seberapa efisien perusahaan menggunakan asetnya (Brealey, Myers dan Marcus, 1995).

Beberapa rasio efisiensi adalah sebagai berikut:

  1. Asset Turnover Ratio (ATR). Rasio ini dikenal pula dengan istilah asset turnover. Rasio ini menunjukkan seberapa optimal perusahaan menggunakan assetnya sehingga dapat diketahui keuntungan yang dihasilkan dari setiap nilai nomimal asset yang dipergunakan. Formulanya adalah:
ATR   =

Sales

 
Average Total Asset  

 

Jika perusahaan dalam suatu industri mencapai rasio yang tinggi maka dapat diindikasikan bahwa perusahaan telah beroperasi mendekati kapasitas optimalnya. Asset perusahaan cenderung mengalami perubahan dari tahun ke tahun, sehingga dalam hal ini dipergunakan rata-rata asset pada awal tahun dan akhir tahun.

Dalam praktiknya kadang manajer perlu untuk melihat seberapa optimal asset tertentu telah digunakan. Sebagai contoh, manajer ingin melihat nilai penjualan per dolar yang telah diinvestasikan pada aktiva tetap (fixed assets turnover/FAT) atau hanya  pada net working capitalnya saja (Net Working Capital Turnover/NWCT).

Dengan demikian dapat pula dilakukan perhitungan sebagai berikut:

FAT   =

Sales

 
Average Fixed Asset  

 

atau:

NWCT   =

Sales

Average Net Working Capital Turnover
  1. Inventory Turnover Ratio (ITR). Manajer dapat melihat tingkat efisiensi dengan memonitor tingkat perputaran inventori dengan rumus sebagai berikut:
             ITR    =

Cost of Goods Sold

 
Average Inventory  

 

Inventory Turnover Ratio yang tinggi dibandingkan dengan perusahaan lain di dalam industri yang sama dapat dianggap sebagai tanda tercapainya efisiensi.

Pengukuran lain yang lebih bermanfaat adalah dengan melihat seberapa cepat perputaran persediaan melalui jumlah hari penjualan persediaan. Tahap-tahapnya adalah:

  1. cost of good sold dibagi dengan 365 (jumlah hari dalam 1 tahun),
  2. Nyatakan inventori dalam penjualan harian. Hasil yang diperoleh menunjukkan jumlah hari penjualan yang dibutuhkan untuk menjual seluruh persediaan.

Secara lengkap formulanya adalah sebagai berikut:

 

   Days Sales in Inventories     =

Average Inventory

Cost of good sold / 365

 

  1. Average Collection Period. Periode ini mengukur kecepatan pelanggan membayar tagihannya dan menunjukkan piutang berdasarkan penjualan harian. Secara lengkap formulanya adalah sebagai berikut:

 

   Average Collection Period     =

Average Receivable

Average daily sales

 

Hasil perhitungan yang diperoleh dapat diinterpretasikan sebagai rata-rata lamanya tenggang waktu yang dibutuhkan perusahaan untuk memperoleh pembayaran tagihan oleh pelanggannya. Rasio perbandingan yang rendah dapat mengindikasikan  seberapa efisien departemen penagihan melakukan tugasnya.

Dalam konteks makalah ini rasio yang dipergunakan untuk melihat tingkat efisiensi perusahaan adalah asset turnover ratio (ATR). Pilihan tersebut didasarkan pada kebutuhan untuk melihat efisiensi dari sisi proses produksi yang menyoroti optimalisasi penggunaan aktiva dalam menghasilkan penjualan.

Sejalan dengan tujuan utama perusahaan yaitu untuk mencapai laba, maka jika laba didefinsikan sebagai perbedaan antara revenue (sebagai ukuran output) dan cost (sebagai ukuran input) maka profit juga dapat dikatakan sebagai ukuran efisiensi (Anthony dan Govindaradjan, 2007).

Dengan demikian profit juga merupakan ukuran dari efisiensi atau dengan kata lain efisiensi yang dicapai oleh perusahaan dapat dilihat pula dari laba yang dicapai.    Dalam upaya mencapai efisiensi salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan inovasi secara berkelanjutan.

 

Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Inovasi

Inovasi teknologi menjadi semakin meningkat kompleksitas, biaya, dan resikonya sebagai timbal balik dari perubahan proses bisnis, tekanan persaingan yang tinggi, dan perubahan drastis dan cepat dari teknologi itu sendiri. Teknologi adalah sumber daya penting dan merupakan sub sistem dari organisasi. Dengan demikian, teknologi memiliki implikasi kritis terhadap daya saing dan keuntungan jangka panjang. Untuk tetap bertahan dan unggul dalam persaingan pasar, perusahaan perlu memberikan perhatian dan mampu memperoleh keunggulan dari peluang teknologis untuk mendukung strategi bisnis serta meningkatkan operasi dan layanannya. Dalam hal ini, keberhasilan organisasi atau perusahaan sebagian ditentukan oleh daya tanggap dan adaptasi terhadap inovasi teknologi (Higa dkk, 1997).

Salah satu jenis teknologi yang sangat berkembang pesat dan menjadi faktor pendorong era globalisasi dan perdagangan bebas adalah teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Perbedaan atau kesenjangan penggunaan TIK di antara berbagai Negara, seperti sudah disajikan sebelumnya, tentunya menimbulkan dugaan bahwa tingkat penggunaan TIK mungkin menjadi salah satu faktor berpengaruh yang relatif signifikan terhadap perbedaan pertumbuhan ekonomi di antara negara-negara.

OECD mendefinisikan Teknologi Informasi dan Komunikasi, selanjutnya disebut TIK, sebagai rangkaian kegiatan yang difasilitasi peralatan elektronik yang mencakup pengolahan, transmisi, dan penyajian informasi. TIK merupakan konvergensi dari tiga wilayah yaitu teknologi informasi, data dan informasi, serta masalah-masalah sosioekonominya. TIK sendiri pada dasarnya digunakan oleh individu yang sebagian besar menjadi karyawan sebuah perusahaan. Jadi tingkat penggunaan TIK di setiap negara sangat ditentukan oleh intensitas penggunaan TIK tersebut oleh karyawan dan muara akhirnya adalah dampaknya terhadap kinerja perusahaan.

Brynjolfsson dan Hitt (2000) menjelaskan bahwa pada awal tahun 1990-an, para analis perusahaan sudah mulai menemukan bukti bahwa komputer memiliki pengaruh yang mendasar terhadap tingkat produktifitas perusahaan. Hal tersebut sesuai juga dengan hasil penelitian Li and Shao (2000) yang menyatakan bahwa teknologi informasi mempunyai pengaruh positif terhadap efisiensi perusahaan yaitu dalam proses produksinya. Sedangkan Stolarick (1997) menunjukkan hasil penelitiannya bahwa terdapat hubungan positif antara produktifitas dengan pembelian teknologi informasi.

Berbagai penelitian akhir-akhir banyak dilakukan untuk melihat pengaruh teknologi informasi terhadap perubahan organisasi. Menurut Chen dan Zhu (2004), anggaran teknologi informasi tidak secara efisien dimanfaatkan; masih diperlukan analisis lebih lanjut terhadap tipe IT, praktek manajemen, dan variabel lainnya untuk menjelaskan perbedaan kinerja. Hasil penelitian Jones dan Kochtanek (2004) menunjukkan bahwa penggunaan teknologi mendorong peningkatan berbagai ukuran perbaikan kinerja, termasuk efisiensi waktu dan pengambilan keputusan yang lebih baik. Sedangkan Gera dan Gu (2004) menyimpulkan berdasarkan hasil analisis regresi bahwa praktek-praktek inovasi organisasi bersama dengan TIK berhubungan erat dengan kinerja perusahaan yaitu melalui perbaikan produktifitas dan laju inovasi.

 

Berbagai penelitian tersebut di atas pada dasarnya menganalisis 2 aspek utama yaitu investasi teknologi informasi dan kinerja perusahaan. Sedangkan kinerja perusahaan sendiri – seperti dijelaskan di bagian 3 – merupakan salah satu ukuran inovasi dari sisi output. Masing-masing peneliti menggunakan berbagai jenis variabel untuk kedua aspek tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: