Tinggalkan komentar

TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN, IKLIM DEMOKRATIS DALAM ORGANISASI DAN SIKAP PROFESIONAL


Paradigma baru dalam pendidikan tinggi memerlukan pendekatan yang benar-benar baru karena isu-isu seperti pendidikan sepanjang hayat, pembelajaran terbuka, kualitas serta relevansi, akuntabilitas dan otonomi serta keadilan merupakan hal yang sangat penting. Karena turut mendukung kemampuan bangsa untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Tantangan yang dihadapi di masa datang adalah pengetahuan berbasis ekonomi (knowledge base economy) guna menciptakan pengetahuan dengan profesionalisme yang tinggi. Implementasinya telihat dalam visi perguruan tinggi, yaitu: (1) kualitas, meliputi kontribusi terhadap daya saing, pengembangan pengetahuan, pembentukan masyarakat madani, (2) aspek dan pemerataan, mencakup pendidikan berkesinambungan, inspiratif dan pemberdayaan dan (3) otonomi, yang mencakup kewenangan institusi, akuntabilitas dan pencapaian keunggulan. Implikasinya adalah bagaimana strategi mencapai organisasi yang sehat melalui: pengelolaan kelembagaan, pengelolaan program, pengelolaan sumber daya, dan pengelolaan penjaminan mutu. Organisasi perguruan tinggi di Indonesia dewasa diharapkan mampu beradaptasi dengan perubahan dan memberikan otonomi yang cukup agar mampu berkreasi dan melakukan inovasi.
Penyelenggaraan PTS, di Indonesia masih belum optimal. Sebagai contoh, di Kopertis Wilayah IV, pada tahun 2006 jumlah program studi di PTS Wilayah IV berjumlah 340 program studi akan tetapi yang telah terakreditasi baru mencapai kurang lebih 35% (Kopertis, 2006). Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak PTS yang belum memenuhi standar untuk diakreditasi. Jawaban semua tantangan ke depan, memerlukan suatu kebijakan berupa penataan ulang struktur organisasi intern perguruan tinggi agar lebih gesit dalam menghadapi setiap tantangan dan peluang yang ada. Beberapa masalah dalam penyelenggaraan PTS antara lain: (1) Pengelolaan PTS belum secara optimal memikirkan masalah-masalah yang muncul di masyarakat, (2) belum menempatkan diri sebagai problem solver bagi masyarakat, dan (3) belum berperan secara optimal sebagai agen perubahan.
Masalah dalam kajian ini sejauhmana tanggung jawab pemimpin dalam menciptakan iklim demokratis dalam organisasi dan bagaimana dampaknya terhadap sikap profesional dosen.

TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN
Dalam menjalankan tugas kepemimpinannya seorang pemimpin senantiasa dituntut untuk mewujudkan tanggung jawabnya, baik kepada anggotanya maupun kepada organisasinya. Dengan kata lain ia bertanggungjawab atas seluruh elemen organisasi (responsibility for the whole). Pinchot dan Gifford (1994) mengemukakan kondisi yang menjadi karakteristik dari adanya tanggung jawab pemimpin atas keseluruhan yaitu: (a) Equality, diversity and community, (b) Voluntary learning networks dan (c) democratic self management.
Merujuk pada kriteria di atas, maka tanggung jawab pemimpin ditandai dengan adanya kesamaan, perbedaan dalam masyarakat, kelompok belajar sukarela dan manajemen diri yang sifatnya demokratis. Implikasinya adalah pemimpin dapat memberikan peluang atau menghargai adanya perbedaan, membentuk agar masyarakat yang terlibat dalam kelompok belajar secara sukarela dan mendukung adanya manajemen diri yang demokratis.

IKLIM DEMOKRATIS DALAM ORGANISASI
Dalam mencermati fenomena iklim demokratis dalam suatu organisasi, maka hal tersebut tidak terlepas dari peran pemimpin dalam memimpin dan menjalankan organisasi. Studi yang telah dilakukan oleh Lewin, Lippit, dan White (Salusu, 1996) merupakan studi klasik di bidang ini. Tiga gaya kepemimpinan dasar ditemukan, yaitu : otokratik, demokratik, dan laissez-faire yang kemudian dilengkapi menjadi empat oleh Yukl (2005), yaitu: (1) Gaya direktif. Pemimpin yang direktif pada umumnya membuat keputusan-keputusan penting dan banyak terlibat dalam pelaksanaannya.
Terkait dengan kepemimpinan demokratis yang bercirikan kecerdasan emosional, pemimpin dalam iklim demokratis ditandai dengan adanya pemberian peluang yang cukup kepada para anggotanya untuk maju dan berkembang sesuai dengan kemampuannya. Pinchot dan Gifford (1993) mengemukakan tentang karakteristik atas kebebasan / demokrasi yang dimaksud, yaitu: (a) Widespread truth and rights, (b) Freedom of enterprise, (c) liberated teams.
Dengan demikian peluang kebebasan memilih atau demokrasi bagi para anggota (bawahan) yang didukung oleh pemimpin adalah ketika pemimpin senantiasa menyebarkan kebenaran dan hak-hak yang dapat dinikmati oleh bawahan, kebebasan dalam organisasi untuk mewujudkan aktualisasi dan membentuk tim atau kelompok-kelompok yang liberal yang dapat berkembang dengan baik.
Dalam iklim kepemimpinan yang demokratis, pemimpin harus menciptakan pemimpin lainnya. Hal ini sejalan dengan model yang dikemukakan oleh Tichy (2002) dalam Cycle of Leadership yaitu tentang leader teaching.

SIKAP PROFESIONAL
Esrock dan Ferre (2000) mengungkapkan bahwa sikap merupakan suatu apresiasi atau keadaan mental di dalam jiwa dan diri seorang individu untuk bereaksi terhadap lingkungannya. Pendapat lain bahwa attitude may be defined as the relatively lasting organization of feelings, beliefs, and behavior tendencies directed towards specific persons, groups, ideas, or objects (Baron dan Byrne, 2003) Sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak pada objek tersebut. Kelompok pemikiran yang diwakili oleh para ahli seperti Chave (1928), Bogardus (1931), LaPierre (1934), Mead (1934), dan Gordon Allport (1935) tokoh terkenal di bidang Psikologi Sosial dan Psikologi Kepribadian yang konsepsi mereka mengenai sikap lebih kompleks (Baron dan Byrne, 2003).
Lapierre (1934 dalam Allen, Guy, dan Edgley, 1980) mendefinisikan sikap sebagai “suatu pola perilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial, atau secara sederhana, sikap adalah respons terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan. Terdapat beberapa teori tentang sikap (Mann, 1969; Secord dan Backman, 1964) antara lain adalah teori keseimbangan (balance theory) oleh Heyder; terori kesesuaian (congruity priciple) dari Tannenbaum; terori disonansi kognitif (cognitive dissonance) yang dikemukakan oleh Festinger (1954) maupun teori afektif-kognitif dari Rossenberg (1995), serta beberapa teori lain. James, Mackenzie dan Higgnbotham (2007) mengemukakan bawa sikap adalah rangsangan atau stimulus tertentu.
Dosen adalah mereka yang menguasai materi disiplin ilmu dan bertugas mentransfer pengetahuannya kepada mahasiswa. Pendekatan ini lazim disebut teacher centred, atau berpusat pada diri dosen dan merupakan hal yang terpenting bagi dosen dalam menjalankan tugas membelajarkan (Berquist dan Philips, 1977).
Pengembangan sumber daya manusia (SDM) pada perguruan tinggi mulai tertantang untuk mampu menghasilkan SDM yang mempunyai keahlian, keterampilan, dan profesi yang sesuai dengan keperluan pembangunan di samping sesuai dengan keperluan pembangunan juga sesuai dengan karakteristik dan aspirasi tiap pribadi peserta didik. Tantangan ini hanya akan terjawab dengan meningkatkan kemampuan tenaga dosen maupun lembaga penyelenggara pembelajaran (Gaff, J. G., 1975). Profesi dosen menurut Gaff (1975) dan Doughty (1998) sesuatu yang harus terus dikembangkan mencakup tiga hal yang saling berkaitan, yaitu pengembangan instruksional, pengembangan organisasi, dan pengembangan professional. Dosen berdasarkan pendidikan dan keahliannya diangkat oleh penyelenggara perguruan tinggi dengan tugas utama mengajar pada perguruan tinggi yang bersangkutan (Gaff, J.G., 1977) .
Dalam menjalankan tugas sebagai tenaga profesional dosen harus berdasarkan prinsip profesionalitas (UU No.14, 2005). Indikator profesional dikemukakan oleh Palan (2003), yaitu (1) mampu memberikan penjelasan secara substatif perihal makna kompetensi dan kompeten di dalam sebuah organisasi; (2) mampu membedakan antara kompetensi dan kompeten; (3) memiliki pemahaman lebih lanjut tentang peran SDM sebagai capital dan bukannya sekedar membangun kerajaan bisnis pada suatu organisasi; (4) mampu menjelaskan tujuan penggunaan kompetensi dalam sistem pengembangan SDM.
Profesional dosen telah diatur oleh Undang-Undang yang mencakup kualifikasi akademik, komptensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, dan memenuhi kualifikasi lain yang dipersyaratkan satuan pendidikan tinggi tempat bertugas (jabatan akademik), serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Dengan kata lain seorang dosen mampu melaksanakan tugas-tugas pembelajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat serta mentaati undang-undang, hukum, kode etik dan menjaga persatuan dan kesatuan bangsa (UU No.14, 2005).
Penerapan perilaku untuk mencapai sikap profesional dosen, dengan cara menerapkan ciri/karakteristik sikap profesional dosen, bakat, minat dan idealisme, komitmen relevansi kualifikasi akademik kompetensi tanggung jawab dan tugas profesional, penghasilan yang memadai, kesempatan untuk berkembang, kesadaran akan perlindungan hukum, dan partisipasi dalam organisasi profesi.
Dengan demikian sikap profesional dosen merupakan suatu bentuk evaluasi atau reaksi terhadap ketentuan atas profesi dosen yang dapat dilihat dari: bakat, minat dan idealisme, komitmen, relevansi kualifikasi akademik, kompetensi, tanggung jawab atas tugas profesional, penghasilan yang memadai, kesempatan untuk berkembang, kesadaran akan perlindungan hukum dan partisipasi dalam organisasi profesi.

TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN DAN IKLIM DEMOKRATIS DALAM ORGANISASI
Tanggung jawab pemimpin adalah mengarah kepada seorang pemimpin yang dituntut untuk mewujudkan tanggung jawabnya, baik kepada anggota maupun kepada organisasinya, yang mencakup: keadilan, pengakuan atas perbedaan, semangat kelompok, mengkodisikan terciptanya belajar mandiri, manajemen diri yang bersifat demokratis, penyesuaian individu, memotivasi, mengawasi, dan memecahkan masalah.
Implikasinya dari kondisi tersebut pemimpin dapat memberikan peluang, menghargai adanya perbedaan, membentuk agar anggota yang terlibat dalam kelompok belajar secara mandiri dan mendukung adanya manajemen diri yang demokratis. Berdasarkan konsep di atas maka tugas dan tanggung jawab pimpinan intinya adalah pada bagaimana menciptakan suasana organisasi yang adil, menciptakan kemandirian bagi bawahannya, menciptakan harmoni atau kesesuaian antara orang-orang yang berada dalam organisasi dengan organisasi itu sendiri, memotivasi, mengawasi dan melakukan pemecahan masalah serta menciptakan budaya kepemimpinan yang relevan.
Pemimpin yang dapat melaksanakan tanggung jawabnya adalah pemimpin yang mempartisipasikan anggotanya dan memahami adanya perbedaan pandangan yang mereka miliki. Dengan upaya mempartisipasikan tersebut iklim organisasi akan terdorong ke arah iklim demokratis yang ditandai oleh adanya kaderisasi pemimpin, partisipasi anggota yang aktif, kesempatan untuk belajar secara mandiri, inovatif dan kreatif.

TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN DAN SIKAP PROFESIONAL
Tanggung Jawab Pemimpin adalah mengarah kepada seorang pemimpin yang dituntut untuk mewujudkan tanggung jawabnya, baik kepada anggota maupun kepada organisasinya, yang mencakup: keadilan, pengakuan atas perbedaan, semangat kelompok, mengkodisikan terciptanya belajar mandiri, manajemen diri yang bersifat demokratis, penyesuaian individu, memotivasi, mengawasi, dan memecahkan masalah. Dalam menjalankan tugas kepemimpinannya seorang pemimpin dituntut untuk mewujudkan tanggung jawabnya, baik kepada anggota maupun kepada organisasinya. Dengan kata lain ia bertanggungjawab atas seluruh elemen organisasi (responsibility for the whole).
Dalam kondisi seperti di atas pengembangan sikap profesional berpotensi untuk dapat dikembangkan jika mereka diarahkan oleh pemimpin yang dapat menjalankan tanggung jawabnya untuk mengarahkan dan membina tugas profesional dosen. Hal tersebut sejalan dengan konsep yang mengemukakan bahwa tugas dan tanggung jawab pemimpin antara lain adalah melakukan penyelarasan antara sumber daya manusia yang dimiliki dengan proses pengorganisasian dan penentuan staf, memotivasi, mengawasi dan memecahkan masalah. Dengan demikian secara konseptual tanggung jawab pemimpin berpengaruh terhadap sikap profesional dosen.

PENGARUH IKLIM DEMOKRATIS TERHADAP SIKAP PROFESIONAL
Iklim demokratis adalah kondisi organisasi yang dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip demokratis, yaitu: kesejajaran, independensi dan partisipasi guna mencapai kualitas dari proses suatu organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Salah satu tuntutan lingkungan bagi dosen adalah adanya ketentuan tentang standar profesi dosen yang antara lain mejelaskan kedudukan dosen adalah anggota organisasi yang berperan sebagai tenaga kependidikan di perguruan tinggi. Dosen adalah seorang yang berdasarkan pendidikan dan keahliannya diangkat oleh penyelenggara perguruan tinggi dengan tugas utama mengajar pada perguruan tinggi yang bersangkutan. Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam menjalankan tugas sebagai tenaga profesional dosen harus berdasarkan prinsip profesionalitas, yaitu: (a) memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme, (b) memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu, pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia, (c) memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas, (d) memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas, (e) memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan, (f) memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja, (g) memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat, (h) memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan; dan (i) memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan.
Dalam kondisi seperti di atas pengembangan sikap profesional berpotensi untuk dapat dikembangkan jika mereka berada di dalam iklim organisasi yang demokratis yang memungkinkan para dosen untuk mengembangkan kemampuan dan memenuhi tuntutan profesionalismenya. Sebagai contoh untuk memiliki kompetensi yang sesuai dengan bidang keahliannya, seorang dosen harus memperoleh kesempatan untuk berdiskusi, mengemukakan pendapat, belajar secara mandiri dan mengembangkan ilmu melalui pendidikan lanjut. Sejalan dengan konsep tersebut maka iklim demokrasi berpengaruh terhadap sikap profesional.

PERAN TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN DALAM MENCIPTAKAN IKLIM DEMOKRATIS SEBAGAI UPAYA PEMBENTUKAN SIKAP PROFESIONAL

Peran tanggung jawab pimpinan dalam membentuk iklim demokratis dalam organisasi dosen. Unsur-unsur tanggung jawab pimpinan seperti: upaya untuk mencari peluang, berani mengambil risiko, membangun visi, mendorong anggota organisasi untuk bekerjasama, dan memberikan penghargaan terhadap para dosen yang berprestasi merupakan unsur penting untuk membentuk iklim demokratis dalam organisasi Selanjutnya kekuatan sebagai dasar dalam pembuatan keputusan terletak pada bagaimana memberikan proses layanan kepada mahasiswa. Adanya pertemuan dalam kelompok kecil secara intensif akan meningkatkan intensitas upaya pembentukan sikap profesional.
Iklim demokratis berperan dalam membentuk sikap profesional dosen. Unsur-unsur yang membentuk iklim demokrasi seperti: perlunya memberi kesempatan kepada dosen untuk memberikan saran dalam proses pengambilan keputusan, perlunya memberikan kemandirian pada dosen, perlu dibentuknya kelompok kajian akademik untuk dosen, pemberian alokasi waktu untuk para dosen mengemukakan kritik dan saran, dan dosen dapat mengajukan pendapatnya secara lisan mengenai organisasi atau kepemimpinan. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Burns menjelaskan adanya dua bentuk kepemimpinan yaitu transaksional dan transformasional. Pertama, Kepemimpinan transaksional, berdasarkan legitimasi otoritas di dalam struktur birokratis organisasi. Penekanan adalah pada kejelasan tujuan dan sasaran, pekerjaan dan organisasi, reward dan punishment. Kedua, Kepemimpinan Transformasional, adalah proses meningkatkan motivasi dan komitmen diantara bawahan. Penekanannya adalah untuk menciptakan visi bagi organisasi dan kemampuan pemimpin untuk membangun idealisme dan nilai di kalangan para pengikut, menciptakan rasa adil, kesetiaan dan kepercayaan. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan pendapat Yukl yang memberikan seperangkat panduan untuk melaksanakan kepemimpinan transformasional, yaitu: (1) Menentukan Visi dengan jelas, hal ini terkait dengan aspek-aspek yang ingin dicapai oleh organisasi; (2) Menjelaskan bagaimana cara mencapai visi yang telah ditetapkan; (3) Bertindak secara percaya diri dan optimis; (4) Menunjukkan rasa percaya kepada bawahan; (5) Memberikan peluang kepada bawahan untuk berhasil; (6) Mendukung keberhasilan dan memelihara semangat untuk terus melanjutkannya, lebih jauh juga menyadari kontribusi yang sudah diberikan oleh anggota; (7) Memperkuat visi dengan mempergunakan tindakan simbolik untuk menekankan nilai-nilai yang harus dipelihara; (8) Memberikan teladan melalui interaksi sehari-hari; (9) Memberdayakan orang-orang untuk mencapai visi dengan mendelegasikan kewenangan dalam pembuatan keputusan.
Salah satu tuntutan lingkungan bagi dosen adalah adanya ketentuan tentang standar profesi dosen yang antara lain mejelaskan kedudukan dosen adalah anggota organisasi yang berperan sebagai tenaga kependidikan di perguruan tinggi. Dosen adalah seorang yang berdasarkan pendidikan dan keahliannya diangkat oleh penyelenggara perguruan tinggi dengan tugas utama mengajar pada perguruan tinggi yang bersangkutan. Dosen merupakan pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam menjalankan tugas sebagai tenaga profesional dosen harus berdasarkan prinsip profesionalitas, yaitu: (a) memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme, (b) memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu, pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia, (c) memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas, (d) memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas, (e) memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan, (f) memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja, (g) memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat, (h) memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan; dan (i) memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan.
Dalam kondisi seperti di atas, pengembangan sikap profesional berpotensi untuk dapat dikembangkan jika mereka berada di dalam iklim organisasi yang demokratis, sehingga memungkinkan para dosen mengembangkan kemampuannya dan memenuhi tuntutan profesionalisme. Sebagai contoh untuk memiliki kompetensi yang sesuai dengan bidang keahliannya, seorang dosen harus memperoleh kesempatan untuk berdiskusi, mengemukakan pendapat, belajar secara mandiri dan mengembangkan ilmu melalui pendidikan lanjut. Sejalan dengan konsep tersebut maka iklim demokrasi berpengaruh terhadap sikap profesional.
Namun demikian, dalam kajian ini focus perhatian adalah bahwa iklim demokratis berperan dalam membentuk sikap profesional dosen. Hal tersebut dapat dipahami karena pada umumnya tingkat iklim demokratis belum menjadi budaya yang dirasakan sebagai fasilitas bagi berkembangnya sikap profesional dosen. Dengan demikian adanya iklim demokratis tersebut secara tidak langsung berperan dalam membentuk sikap profesional.

KESIMPULAN
Tanggung jawab pemimpin berperan dalam pembentukan Iklim demokratis dalam suatu organisasi. Unsur-unsur yang terdapat pada tanggung jawab pimpinan seperti: upaya untuk mencari peluang, berani mengambil resiko, membangun visi, mendorong anggota organisasi untuk mau bekerjasama, dan memberikan penghargaan terhadap para dosen yang berprestasi Belem secara signifikan sebagai pembentuk iklim demokrasi di organisasi.
Tanggung jawab pimpinan berperan dalam membetuk sikap profesional dosen. Unsur-unsur yang terdapat pada tanggung jawab pemimpin seperti: upaya untuk mencari peluang, berani mengambil resiko, membangun visi, mendorong anggota organisasi untuk bekerjasama, dan memberikan penghargaan terhadap para dosen yang berprestasi merupakan unsur penting untuk membentuk sikap profesional dosen.
Iklim demokratis berperan dalam membentuk sikap profesional dosen. Hal tersebut menunjukkan bahwa unsur-unsur yang membentuk iklim demokrasi seperti: memberi kesempatan kepada dosen untuk memberikan saran dalam proses pengambilan keputusan, memberikan kemandirian pada dosen, dibentuknya kelompok kajian akademik untuk dosen.
Implikasi kebijakan dalam upaya pengembangan sikap profesional dosen melalui pembentukan iklim demokratis dalam organisasi, perlu diterapkan kebijakan organisasi perguruan tinggi yang dinamis, responsif dan berorientasi pada pengembangan iklim demokratis. Hal tersebut sangat penting mengingat di masa datang organisasi perguruan tinggi perlu mengantisipasi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi secara lebih cepat. Dinamisasi organisasi perguruan tinggi antara lain dengan diterapkannya kebijakan pemberdayaan organisasi berbasis kompetensi.

KEPUSTAKAAN

Berkowitz,1972. Social norms, feelings, and other factors affecting helping behavior and altruism. In: Berkowitz L editors. Advances in experimental and social psychology. Vol. 2 (pp. 301–329):New York: Academic Press.
Berquist, William H., and Stevent R. Philip (1977). Handbook for Faculty Development. Vol 2, Washington DC: The Council for the Advancement of Small Colleges.
Boyatziz, Richard E., and Ellen Van Oosten (2003). A Ledearship Imperative: Building The Emotionally Intelligent Organization. Ivey Business Journal, EBSCO Publishing.
Esrock, Stuart L., dan John P. Ferre (2000). A Dicotomy of Privacy: Personal & Professional Attitudes of Marketers, Business and Society Review. Vol 104. No.1.
Gaff, J. G. (1975). Toward Faculty Renewal: Advances in Faculty Instructional and Organizational Development. San Francisco: Jossey-Bass.
Gifford & Elizabeth Pincohot, 1993. The End of Bureaucracy and The Rise of the Intelligent Organization, San Francisco: Berrett-Koehler Publishers, Inc.
James, Carole, Lynette Mackenzie and Nick Higginbotham. (2007). Healt Professionals’ attitudes and practices in relation to Functional Capacity Evaluations. Work,Vol. 29
Kopertis Wilayah IV. 2006. Direktori Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Barat. Bandung: Kopertris Wilayah IV.
Kreitner, Robert, and Anggelo Kinicki 2007. Organization Behavior 7 th Edition, New Yersey; Englewood Cliffs; Prentice Hall Inc.
Liang, Thow Yick (2002). The Inherent Structure and Dynamic of Intelligent Human Organization. Human System Management. Vol. 21.
Liou, Kuatsai Tom (1998). Employee Turn Over Intention and Profesional Orientation: A Study of Detention Workers. PAQ Summer.
Pemerintah RI, (2005). Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Jakarta:Fokusmedia.
Salusu, J., (1996). Kepemimpinan Strategik, Jakarta: Gramedia
Sydanmaanlakka, Pentti (2002). An Intelligent Organization; Integrating Performance, Competence and Knowledge Management. United Kingdom: Capstone Publishing Limited
Tichy, Noel M and Nancy Cardwell, (2002). The Cycle of Leadership: How Great Leaders Teach Their Companies to Win. Publisher: Collins Business
Yukl, Gary (2011). Leadership in Organization. New York: Prentice Hall.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: